Sementara praktik korupsi yang terjadi, ada empat bentuk: (1) Praktik koruptif dengan modus penggelapan kepemilikan izin Perusahaan Tambang Nikel; (2) Praktik Koruptif dengan modus Revolving Door Corruption dan Abuse of Power; (3) Praktik korupsi dengan modus Konflik Kepentingan (Conflict of Interest); dan (4) Praktik Petty Corruption (pungutan liar).
Baca Juga: Prediksi Manga One Piece 1121: Vegapunk Ungkap Masa Depan Dunia, Emeth Keluarkan Senjata Pamungkas!
Ada pun gerakan perlawanan dan inisiatif rakyat dalam melawan tambang nikel di Halteng, dapat ditelusuri dari munculnya gerakan #SaveSagea yang telah "Menyalakan Api Perlawanan Rakyat di wilayah Halteng dan sekitarnya."
Sedangkan di wilayah Haltim melahirkan gerakan #SaveWato-Wato yang menjadi perluasan (baru), bagi barisan perlawanan rakyat untuk penyelamatan Gunung Wato – Wato.
Berdasarkan cerita-cerita dari desa-desa sekitar tambang nikel di Halteng dan Haltim tersebut, dapat dianalisis bahwa ada empat kategori hubungan dampak tambang nikel yang korup dengan masyarakat dan alam sekitarnya di Maluku Utara.
Yaitu, (1) Korupsi Nikel dan Penciptaan Bencana Ekosistem; (2) Korupsi Nikel dan Dampak Kemiskinan/Pemiskinan Pedesaan; (3) Korupsi Nikel dan Dampak Penghancuran Sosial-Budaya dan Gender; dan (4) Korupsi Nikel dan Ancaman Etnogenosida Masyarakat Adat (TII, 2024).
Baca Juga: Nadirsyah Hosen Sayangkan Kunjungan 5 Nahdliyin ke Israel: Jauh dari Prinsip NU
Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia. Posisinya sama dengan Australia, masing-masing menyumbang 21 persen dari total cadangan nikel dunia.
Indonesia pun mempunyai pabrik nikel terbesar di dunia. Lokasinya di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara (Malut).
Tidak seperti di Australia, di mana tambang nikel dikelola dengan manajemen hijau, di Halmahera tambang nikel dikelola dengan manajemen hitam.
Manajemen yang rusak, ugal-ugalan, dan ilegal. Akibatnya, wilayah tambang nikel tercemar dan rusak parah.
Baca Juga: Komentar Nadirsyah Hosen soal 5 Warga NU Sambangi Presiden Israel: Banyakin Ngaca Mas, Mbak
Majalah Tempo edisi 5 November 2023 melaporkan, adanya pencemaran air sungai yang sangat parah akibat pertambangan dan pabrik nikel di Malut tersebut.
Air sungai Sagea di Malut, misalnya, tercemar akibat tambang nikel.
“Ada yang tak beres di balik gembar-gembor pemerintah menggenjot jumlah kendaraan listrik di perkotaan. Eksploitasi bijih nikel untuk bahan baterai kendaraan yang diklaim ramah lingkungan, justru merusak lingkungan di banyak tempat. Salah satunya di Weda Utara, Halmahera Tengah, Malut,” tulis Tempo.