Oleh: Syaefudin Simon, Alumnus FMIPA Kimia UGM
SENAYANPOST - Hilirisasi nikel, mantra Jokowi yang meninabobokan 80 persen rakyat Indonesia ternyata ilusi.
Jika anda melihat film dokumenter "Bloody Nickel The Series", akan terlihat betapa buruknya management industri nikel di Sulawesi Tenggara (Sultra), dan Maluku Utara (Malut) yang dijalankan Rejim Jokowi.
Film dokumenter yang dibuat berdasarkan penelitian dan investigasi Jatam (Jaringan Advokasi Tambang), Greenpeace, dan Transparency Internasional Indonesia (TII) benar benar menyentuh hati.
Betapa tidak! Di balik industri nikel yang dibangga-banggakan Jokowi, ternyata terdapat ribuan rakyat yang kehilangan tanah, kebun, sawah, dan mata pencaharian. Bahkan ratusan kematian, korban kekerasan dan kezaliman.
Usai menonton film Bloody Nickel, Sabtu 13 Juli 2024 di TIM, Jakarta, aku membatin: Untuk apa industri nikel jika hanya menguntungkan pebisnis Tiongkok, dan segelintir pengusaha oligarki jika rakyat di Sulut dan Malut menderita luar biasa? Mereka tidak hanya kehilangan mata pencaharian, tapi juga kehidupan masa depannya.
Tanah di mana mereka lahir hancur, sungai di mana mereka mendapat air hancur.
Laut di mana mereka mencari ikan hancur. Semuanya hancur karena industri nikel yang dikelola dengan manajemen korup demi ambisi rejim Jokowi tanpa menghiraukan hukum, keadilan, dan kemanusiaan.
Bayangkan, akibat industri nikel, banyak tanah milik warga menjadi "hantu" secara tiba-tiba.
Baca Juga: Jawaban Singkat Jokowi saat Ditanya 5 Warga NU Sambangi Presiden Israel
Tanah warga yang sehari sebelumnya masih ada, tiba tiba hari berikutnya sudah lenyap.
Pas bangun pagi, petani tidak melihat lagi tanah dan kebun cengkehnya.
Tak hanya fisik tanahnya yang lenyap dengan penanda yang hilang entah ke mana, sertifikat asli yang disimpannya juga tidak berlaku.