nasional

Opini: Kisah Yahudi yang Ingin Berterima Kasih, Keberagaman Agama dan Trisno Sutanto

Senin, 1 April 2024 | 17:20 WIB
(Senayan Post)

Ingatan saya berikutnya soal Trisno Susanto di tahun 2021, tujuh tahun kemudian. Ia kembali bertandang ke kantor saya. Kali ini, ia membawa draft buku karangannya Politik Kebhinekaan.

“Sesuai pesan bro yang dulu, ujar Trisno, ini draft buku kumpulan esai saya.” Saat itu Covid- 19 masih melanda Indonesia. Kami bicara berjarak. Masing masing memakai masker.

Baca Juga: Rencana Diskon Tarif Jalan Tol pada Musim Mudik 2024

Buku Trisno pun didiskusilan dalam webinar Forum Esoterika. Saya memberi catatan atas bukunya itu (Seri Diskusi Esoterika 14).

Topik utama buku Trisno Sutanto: Politik Kebhinekaan. Ini buku terbit tahun 2021. Tebal 401 halaman. Kumpulan 30 esai, rekaman perjalanan aktivis dan intelektual Bro Sutrisno selama 25 tahun.

Banyak esai menarik di buku Trisno itu. Tapi saya kupas satu saja, yang merupakan puncak pemikirannya soal politik kebhinekaan. Judulnya diletakkan di Epilog: Masa Depan Politik Kebhinekaan.

Bro Trisno memaparkan tiga perkembangan penting yang Ia lihat sejak Reformasi. Yaitu: amandemen konstitusi yang banyak melindungi hak asasi. Tentu itu hal utama. Karena kebhinekaan mendapatkan basis konstitusinya.

Baca Juga: Link Nonton dan Spoiler Wonderful World Episode 9 Sub Indo, Tayang Malam Ini

Kedua: Sutrisno juga menyinggung Pilkada Jakarta 2017. Ini politik yang kemudian benar benar membelah warga negara menjadi kita versus mereka: kadrun vs cebong, kampret. Pembelahan ini berlanjut hingga Pilpres 2019, bahkan dalam pro kontra kebijakan Jokowi soal non politik: Covid 19.

Ketiga: Fatwa MUI yang keras sekali mengharamkan sekularisme, liberalisme, pluralisme. Ini fatwa yang mempertebal kultur yang membelah keakraban, keanekaan warga negara.

Ada trend yang berlawanan terjadi. Di satu sisi, konstitusi melindungi keberagamaan melalui amandemen. Tapi di sisi lain, dinamika politik justru membelah keberagamaan.

Trisno mengajukam “Panduan 3 R” untuk politik kebhinekaan ke depan.

Baca Juga: Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan

Pertama: Recognisi. Ini pengakuan dan penerimaan atas keberagaman itu

Kedua: Representasi. Kelompok yang beragam itu terwakili dalam pemerintahan, kelembagaan dan ruang publik.

Halaman:

Tags

Terkini