Baca Juga: Kemenko Polhukam Buka Suara soal Kontroversi Ponpes Al Zaytun, Mahfud MD: Nggak Boleh Sembarangan
Sejak ajaran tersebut mulai didakwahkan di Cisaat, Sukabumi pada akhir 1960an, atau 1970-an telah mendapat reaksi keras dari masyarakat.
Akhirnyam PG memindahkan pusat dakwahnya ke Indramayu dalam bentuk pesantren yang dikenal dengan “Al Zaytun", barangkali pemerintah pada masa awal Orde Baru mengizinkan Al Zaytun, dengan lebih mendasarkan pada kepentingan keamanan dan abai terhadap ajaran agama yang bercorak sinkretisme, yang dikemudian hari menjadi masalah politik.
Ketika menjabat sebagai Wakil Kepala BAKIN, penulis diajak oleh KA BAKIN berkunjung ke pondok pesantren, tetapi dengan berbagai alasan saya menghindar karena mengantisipasi munculnya “bom waktu" dikemudian hari.
Bagaimana mengatasi kemungkinan meledaknya “bom waktu“ tersebut, memang dilematis karena alumni ponpes Al Zaytun cukup besar jumlahnya.
Sedangkan pada sisi lain reaksi masyarakat justru akan semakin besar, seperti tercermin dari tuntutan MUI yang menghendaki pemerintah menyatakan ajaran PG merupakan aliran yang menyimpang.***
Artikel Terkait
Ponpes Al Zaytun yang Dipimpin Panji Gumilang Dianggap Meresahkan, Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum Buka Suara
Pemprov Jabar Undang Ratusan Alim Ulama Terkait Ponpes Al Zaytun Indramayu, Uu Ruzhanul Ungkap Hal Ini
Pemprov Jabar Turunkan Tim Investigasi Terkait Ponpes Al Zaytun Indramayu, Ridwan Kamil: Sudah Beberapa Kali..
Kemenko Polhukam Buka Suara soal Kontroversi Ponpes Al Zaytun, Mahfud MD: Nggak Boleh Sembarangan
Forum Solidaritas Dharma Ayu Demo Ponpes Al Zaytun Indramayu, Polisi Turunkan 1.200 Personel
Ridwan Kamil Laporkan Progres Tim Investigasi ke Kemenko Polhukam Terkait Ponpes Al Zaytun
Pemerintah Rumuskan Tiga Langkah Terkait Ponpes Al Zaytun, Mahfud MD Singgung soal Dugaan Tindak Pidana