Soal Wacana Bahasa Portugis Masuk Kurikulum Pendidikan Indonesia, Bonnie Triyana: Bahasa Inggris dan Mandarin Lebih Relevan

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Minggu, 26 Oktober 2025 | 18:05 WIB
Anggota DPR RI Bonnie Triyana menanggapi wacana Prabowo memasukkan bahasa Portugis ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. (Instagram.com/@presidenrepublikindonesia)
Anggota DPR RI Bonnie Triyana menanggapi wacana Prabowo memasukkan bahasa Portugis ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. (Instagram.com/@presidenrepublikindonesia)

SENAYANPOST - Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang berencana untuk memasukkan bahasa Portugis ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Bonnie berpendapat bahwa bahasa Portugis bukan bahasa yang umum digunakan dalam pergaulan internasional maupun akademik, sehingga penerapannya dikhawatirkan akan membebani siswa dan guru.

"Bahasa Portugis itu bukan bahasa pergaulan internasional. Bukan pula bahasa pengetahuan umum digunakan di kalangan akademik," ujar Bonnie dalam keterangan tertulis pada Sabtu 25 Oktober 2025.

"Mungkin Presiden sedang meng-entertain Presiden Lula sebagai bagian dari diplomasi," imbuhnya.

Baca Juga: HUT Ke-7 Gerakan Indonesia Opitimis dan Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran; Pemuda Patriotik Penggerak Narasi Transformasi Bangsa

Pernyataan itu disampaikan menanggapi ucapan Presiden Prabowo saat bertemu Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, di Istana Negara pada Kamis, 23 Oktober 2025 lalu.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, Prabowo menyebut akan memasukkan bahasa Portugis sebagai bahasa prioritas yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

DPR: Jangan Jadi Beban Baru bagi Siswa dan Guru

Sebagai anggota Komisi X DPR yang membidangi pendidikan, Bonnie mengingatkan agar kebijakan bahasa asing tidak justru menjadi beban tambahan bagi peserta didik.

Menurutnya, jika bahasa Portugis dijadikan mata pelajaran wajib, maka siswa akan dipaksa mempelajari bahasa yang tidak memiliki relevansi besar dalam konteks internasional.

Baca Juga: Hubungan Prabowo–Lula: Babak Baru Diplomasi Ekonomi Global South

"Kalaupun dipelajari di sekolah, apalagi wajib, malah jadi beban siswa begitu pula pendidik karena pasti perlu pengajar bahasa Portugis,” ujar Bonnie.

"Lain halnya kalau jadi mata pelajaran pilihan tak wajib. Siswa boleh memilih ikut atau tidak pelajarannya," imbuhnya.

Selain soal beban kurikulum, Bonnie juga menyoroti kesiapan sumber daya manusia dalam pengajaran bahasa Portugis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X