Oleh : AM Hendropriyono
Sekertaris Pengendalian Operasi Pembangunan RI (1995-1998)
Di antara deretan nama besar yang mewarnai sejarah militer Indonesia, ada satu sosok yang jarang tampil di panggung publik, namun selalu hadir di ruang-ruang penting ketika negara membutuhkan ketenangan, kehati-hatian, dan keteguhan: Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Ia bukan tipe prajurit yang haus sorotan. Tapi sejak muda, sejak masa Presiden Soeharto, hingga kini di bawah Presiden Prabowo Subianto, Sjafrie telah menjadi bagian dari denyut jantung republik — bekerja dalam diam, menjaga dari dalam. Berasal dari posnya di bidang pertahanan negara, kembali lagi ke posnya sebagai prajurit profesional.
1.Era Presiden Soeharto: Di Balik Istana.
Pada dekade 1980–1990-an, Sjafrie adalah sosok yang dipercaya di lingkar dalam pengamanan Presiden Soeharto. Sebagai perwira Paspampres dan kemudian di Kostrad, ia dikenal disiplin, berwajah tampan, rapi, dan nyaris tanpa cela. Ketika banyak perwira muda mengejar prestise dan pangkat cepat, Sjafrie justru memilih kesunyian profesional: “Saya hanya ingin tugas selesai dengan selamat, bukan dikenal,” ujarnya suatu kali dalam wawancara internal TNI. Yang tidak banyak diketahui, ia kerap menjadi liaison officer dalam operasi-operasi pengamanan strategis di masa-masa genting: dari penanganan konflik Timor Timur hingga pengawalan operasi rahasia di Aceh. Semua dijalani tanpa banyak catatan, tanpa publikasi. Itulah gaya khas Sjafrie yang saya kenal sejak bersama-sama dengannya di Kopassus— selalu bekerja tanpa meninggalkan jejak ego.
2. Era Reformasi: Menjaga Marwah TNI di Tengah Badai.
Tahun 1998 adalah masa paling bergejolak dalam sejarah Indonesia modern.
Di saat TNI menghadapi badai kritik, Sjafrie — sebagai Kadispen TNI — tampil di garis depan, bukan dengan senjata, tapi dengan kata-kata yang menenangkan.
Ia menjadi “suara tenang” militer di tengah amarah publik.
Peran komunikatif ini sering diabaikan dalam catatan sejarah, namun kami para perwira senior tahu: dialah salah satu penahan arus radikalisasi di tubuh tentara, agar republik tidak terpecah oleh opini dan emosi.
3. Di Washington Amerika Serikat: Duta yang Senyap.
Awal 2000-an, ketika hubungan Indonesia–Amerika membeku akibat embargo militer, Sjafrie dikirim sebagai Atase Pertahanan RI di Washington D.C.
Tugasnya sulit: mengembalikan kepercayaan Amerika terhadap TNI, tapi tanpa menundukkan martabat Indonesia.
Dengan kemampuan diplomatik yang halus dan bahasa tubuh yang tegas, ia membuka kembali jalur komunikasi pertahanan. Kolonel John Haseman kawan saya di Colorado Amerika Serikat pernah berkomentar: “Sjafrie adalah perwira yang tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam.”
Berbekal kejujuran dan etika profesional, ia menjalankan diplomasi senyap yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
4. Pasca Orde Baru: Perancang Reformasi Pertahanan RI.
Sebagai Wakil Menteri Pertahanan (2010–2014), Sjafrie memimpin tim penyusun Rencana Strategis Pertahanan Nasional — dokumen yang kini menjadi fondasi banyak kebijakan Kemenhan modern. Banyak konsep pertahanan rakyat semesta, modernisasi alutsista, dan kemitraan industri pertahanan nasional lahir dari masa kepemimpinannya. Namun seperti biasa, ia tidak menampakkan diri di depan kamera.
Baginya, pengabdian bukan soal siapa yang menandatangani keputusan, tapi siapa yang memastikan keputusan itu bekerja.
5. Era Presiden Prabowo Subianto: Kembali ke Pos.
Kini, di bawah Presiden Prabowo Subianto, Sjafrie yang pernah menjadi Wakil Menteri kembali memikul amanah lebih tinggi, sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap dikenal memiliki stamina kerja tinggi.
Setiap minggu, ia turun langsung ke lapangan — meninjau galangan kapal di Surabaya, pabrik senjata di Bandung, dan proyek drone tempur di Sentul. Pernah juga meninjau galangan kapal kongsian saya dan kawan-kawan dahulu, sebelum akhirnya galangan tersebut terpaksa kami jual. Ia tak pernah bicara soal “legacy”.
Bagi Sjafrie, tugas hari ini adalah meneruskan perjuangan prajurit-prajurit yang telah mendahului: dari era Soeharto, ke masa reformasi, hingga kini menuju Indonesia yang berdaulat dan mandiri di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.