SENAYANPOST - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan industrialisasi pertanian menjadi strategi utama meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, serta mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Jalan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah bukan hanya melalui industri manufaktur, tetapi juga industrialisasi pertanian dan perkebunan dengan menambah nilai tambah produk pangan, katanya, menegaskan.
"Tapi melakukan industrialisasi di bidang pertanian dan perkebunan dan turunannya itu juga merupakan industri untuk keluar dari middle income trap," kata Mendagri dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan yang digelar Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin (22/9/25).
Baca Juga: Jaringan Narkoba Tembakau Sintetis Senilai Rp21 Miliar Dibekuk Polisi
Ia mencontohkan Selandia Baru (New Zealand) sebagai negara sukses membangun kesejahteraan melalui basis pertanian dan peternakan, meskipun tanpa memiliki industri manufaktur besar seperti otomotif, elektronik atau teknologi tinggi lainnya.
Selandia Baru, lanjutnya, mampu memajukan perekonomian dengan bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan, tanpa bergantung pada industrialisasi besar seperti negara lain.
Menurut Tito, Selandia Baru memiliki kekayaan alam melimpah berupa emas, tembaga, dan batu bara yang belum banyak dieksploitasi, sehingga menjadi cadangan strategis ketika sumber daya negara lain mulai menipis.
Baca Juga: Diaspora New York Antusias Berebut Foto dan Tanda Tangan Prabowo
"Jumlah penduduk di sana (Selandia Baru) 5 juta. Waktu saya sekolah di sana tahun 1998, itu penduduknya 3 juta. Jumlah sheep-nya, dombanya 70 juta. Jumlah sapinya puluhan juta. Jumlah rusanya, puluhan juta," ujar dia.
Tito mengatakan industrialisasi pertanian berarti mengolah hasil pangan, perkebunan, maupun peternakan menjadi produk hilir bernilai tinggi, sebagaimana Korea Selatan mengembangkan ginseng melalui berbagai inovasi produk kesehatan berkualitas ekspor.
Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat, rempah, serta hasil pertanian yang jauh lebih beragam dibandingkan banyak negara lain, sehingga peluang hilirisasi terbuka lebar dengan pengemasan dan pemasaran profesional.
Baca Juga: Paviliun Indonesia di Expo 2025 Dikagumi Warga Jepang
"Kita ini produk-produk untuk tanaman-tanaman obat Indonesia super kaya. Tinggal kita saja yang belum mengembangkan dengan baik menurut saya," ujar Tito.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Karnavian Ungkap Asal Pasokan Senjata KKB Papua: Sebagian Besar Senjata-senjata Itu...
Kenaikan Opsen Pajak Kendaran Juga Ancam Industri Otomotif, Tak Hanya Masyarakat Umum
Laba Asuransi Jiwa Tembus Rp5,3 Triliun di Kuartal 1 2025, IFG Dorong Transformasi Industri Nasional
Ekonomi RI Tumbuh 5,12 Persen di Q2 2025, Industri CPO-Farmasi Jadi Sektor Pendorong Laju Tren Positif
Mendagri dan Delegasi Syiah Suriah Bahas Cara-cara Peningkatan Keamanan dan Stabilitas