ESTAFET KEPEMIMPINAN NASIONAL DARI PRESIDEN JOKOWI KE PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Minggu, 13 Oktober 2024 | 14:36 WIB

Dr KH As'ad Said Ali

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara

 

Berbagai media nasional pada Sabtu 12 Oktober 2024 memberitakan peresmian Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo yang digambarkannya sebagai tonggak yang mewakili masa depan Indonesia. Sedangkan Istana Garuda yang juga berada dalam satu komplek Ibu Kota Nusantara (IKN), konon akan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto segera setelah dilantik sebagai Presiden Indonesia 2024 - 2029.

Hal itu tampaknya dimaksudkan sebagai tradisi politik positif yang merefleksikan keberlanjutan kebijakan dari presiden pendahulu ke pundak presiden berikutnya.

Di samping itu, berbagai media nasional juga memberitakan berita ekonomi yang bernuansa positif bagi masa depan Bangsa Indonesia.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Kamis 10 Oktober 2024 memperkirakan volume perdagangan barang secara global pada 2024 akan tumbuh 2,7 persen per tahun. Proyeksi itu naik tipis dari perkiraan pada April 2024 sebesar 2,6 persen. Pada tahun 2025, WTO memperkirakan volume perdagangan dunia tumbuh 3 persen.

WTO juga menggaris bawahi bahwa Kawasan Asia akan tampil menjadi pembangkit perdagangan dunia. Volume ekspor kawasan Asia akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kawasan lain yakni naik 7,4 % pada 2024.

Tiongkok, Korea Selatan , Singapura, mempunyai peranan penting atas kenaikan aktifitas ekspor impor tersebut.

Tentu saja berita tentang perkembangan ekonomi positif di kawasan Asia tersebut merupakan peluang bagi pemerintah baru Indonesia di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Coba kita bandingkan dengan kondisi ekonomi Asia khususnya Indonesia yang mengalami kontraksi atau penurunan sejak 2020 sebagai akibat dari pendemi Covid-19.

Titik temu antara Presiden Prabowo Subianto dengan mantan Presiden Joko Widodo tentang masa depan ibukota negara tersebut, tampaknya sebagai upaya untuk menepis keraguan publik tentang duet Presiden Prabowo Subianto dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka seperti sering kita dengar selama ini.

Sementara banyak kalangan ekonom Indonesia memberikan perkiraan negatif terkait dengan terbatasnya APBN kita.

Dipihak lain ,para pengamat politik juga mempunyai perkiraan yang cenderung pesimis, terutama di bidang demokrasi yang indeksnya kini terus merosot.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X