Oleh. Mukti Ali Qusyairi, Penulis buku Ulama Bertutur tentang Jokowi
Pasca debat Cawapres yang diadakan oleh KPU RI pada Minggu, 21 Januari 2024. Gibran banyak mendapatkan kritikan dan serangan berupa cibiran, dinilai songong, sombong, tengil, dan tidak punya sopansantu kepada seorang Prof Dr. Mahfud MD. Lantaran Gibran setelah melemparkan pertanyaan tentang greenflation atau green inflation, inflasi hijau kepada Mahfud. Dan Mahfud menjawab. Tapi Gibran merespons dengan adegan gimmick celingak-celinguk seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang dicari, namun tidak ketemu. Sembari berkata, "saya cari-cari jawaban Pak Mahfud kok gak ketemu". Yang ditanya soal inflasi hijau, sedangkan Pak Mahfud dalam jawabannya menjelaskan tentang inflasi ekonomi.
Mahfudz MD pun merespons dengan sikap yang sama dan menirukan apa yang dilakukan Gibran, yaitu; celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu yang tidak ditemukan. Tak berhenti di situ. Mahfudz MD menyatakan bahwa pertanyaan Gibran tak layak dijawab, karena pertanyaan receh. Mahfud benar-benar tak mau menjawab meski waktu masih tersisa banyak.
Mahfud MD terpancing. Malahan satu sikap clingak-clinguk Gibran dibalas dengan berlipat ganda. Jika sikap Gibran itu dianggap sebuah etik yang tidak baik dan tidak sopan. Lalu apakah sikap dan perkataan Mahfud MD itu termasuk beretika dan sopansantun?
Keduanya sudah saling berbalas pantun di panggung sebagai sama-sama Cawapres. Impas. Menariknya saya amati, pendukung 03 masih terus menjadikan hal itu sebagai amunisi menyerang Gibran. Sedangkan pendukung 02 tak ada yang menyerang Mahfud MD dengan amunisi yang sama.
Setelah mengevaluasi dirinya dengan cepat, dirasa ada sikapnya yang kurang tepat, Gibran dengan gentle meminta maaf kepada Mahfud MD. Sedangkan Mahfud tidak balik meminta maaf. Mungkin dengan gimmicknya itu Gibran ingin hati menciptakan suasana debat biar lebih rileks, tapi ternyata menyinggung perasaan. Dan Gibran meminta maaf. Selesai debat, Gibran cium tangan Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar.
Ada adegan yang membuat kita respek adalah ketika ada salah seorang dari KPU naik panggung dan jatuh, Gibran refleks berlari kecil menolong dan membantunya berdiri.
Ketika ada seorang yang meminta maaf, maka agama Islam menganjurkan untuk memaafkan. Menjadi pemaaf adalah orang yang terpuji, (QS. Asyuara: ayat 40; QS. Al-Hijr: ayat 85). Di sini relevan mengutip ayat Al-Quran. Sebagaimana Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD mengutip ayat Al-Quran dalam perdebatan.
Secara substansi tak ada yang perlu dimintakan maaf dan merasa beresalah, sebab Gibran hanya ingin bicara bahwa inflasi hijau yang dimaksudkan bukan dan berbeda dengan inflasi ekonomi yang dijelaskan Mahfud MD. Gibran meminta maaf atas sikapnya saja yang dirasa kurang elok.
Tentu saja sikap Gibran kepada Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar tak bisa disamakan dengan sikap Ganjar Pranowo yang menilai kinerja Menhan dengan nilai 5 dan Anies Basweran dengan nilai 11 dari 100 alias 1.1. Dalam perspektif ilmu mantik (logika dasar) disebut dengan qiyas ma'a al-fariq (menganalogikan sesuatu yang berbeda). Ada beberapa hal yang membedakan.
Pertama, Prabowo diam dan tak membalasnya ketika diserang dengan penilaian yang merendahkan dari Ganjar dan Anies. Sedangkan Mahfud MD membalas Gibran dengan balasan yang berlipat ganda kepada Gibran dengan bilang ngawur, pertanyaan receh, tak layak dijawab.
Kedua, Gibran tidak menyerang dan tidak menilai Mahfud MD sebagai Menkopolhukam. Ia hanya mengkritisi substansi jawaban sembari memberi gimmick. Sedangkan Ganjar dan Anies menyerang dan memberi penilaian yang merendahkan kepada Prabowo sebagai Menhan.
Ketiga, Gibran meminta maaf kepada Mahfud MD. Sedangkan Ganjar dan Anies boro-boro meminta maaf kepada Prabowo, malahan terlihat puas hati merasa menang dengan bisa menjatuhkan dan merendahkan Menhan Prabowo.