Oleh : AM Hendropriyono*
Pada tahun 1995 saya terkejut ketika mendengar bahwa pemerintah Australia dengan perdana Menterinya Paul Keating, keberatan atas rencana penunjukan Letnan Jenderal HBL Mantiri sebagai calon Duta Besar RI di Australia.
Alasannya sungguh aneh, yaitu hanya karena pernah berkomentar yang tidak menyenangkan pemerintah Australia terkait peristiwa Santa Cruz 1991 di Timor Timur. Semata-mata karena satu komentarnya saja, ia telah diganjar dengan langkah politik yang pongah.
Padahal pada tahun 1994 ketika 29 orang mahasiswa Timor Timur di Jakarta beraksi, dengan melompat pagar Kedubes USA, Letjen TNI HBL Mantiri sebagai Kasum ABRI memberikan petunjuk kepada saya, agar saya jangan terpancing. Jangan pakai kekerasan katanya, secara persuasif saja mengusir para pendemo yang meloncat pagar masuk kedutaan besar USA.
Artinya, beliau tidak pernah melakukan langkah politik yang merugikan masyarakat Timor Timur, apalagi pemerintah Australia.
Seharusnya justru pemerintah Australia menilai sikap HBL Mantiri yang positif itu, bukan menilainya dari kata-katanya sebagai manusia yang punya hak asasi untuk berbicara.
Dari sini saja kita dengan mudah bisa menganalisa, siapa sebenarnya pemain lapangan di Timor Timur dalam peristiwa Santa Cruz itu.
Walau pemerintah Australia telah menabur malu terhadap TNI, tapi tidak membuat kecewa HBL Mantiri karena penolakan terhadapnya itu.
Pada tahun 2002 ketika Paul Keating sudah tidak menjabat perdana menteri lagi, telah datang ke Istana negara ingin bertemu Presiden RI.
Presiden Megawati Sukarnoputri menyuruh saya menemuinya dan menyampaikan : “Mr Keating, Presiden kami tidak siap menerima anda”. Dia kelihatan sangat kecewa dan langsung pergi. Dia yang dulu menabur malu, akhirnya dia juga yang menuai kecewa.
Letjen TNI HBL Mantiri dahulu tidak kecewa, karena penolakan Paul Keating terhadap rencana sebagai Duta Besar RI di Australia. Mabes TNI dan kementerian Luar Negeri justru menempatkannya sebagai Duta Besar RI di Singapura, suatu tempat yang sangat disenanginya.
Di sana dia dapat menikmati lingkungan dan makan makanan yang sama dengan lidah Indonesia.
Saya teringat Ketika pada tahun 1959 sering membeli makanan di toko roti Tan Ek Tjoan milik keluarga Ny Ongke Hanna Elia Mantiri istri HBL Mantiri di jalan Cikini Raya, Jakarta.