Atalia Praratya Kritik Lagu Karya Bupati Purwakarta: Budaya Sunda Tak Pernah Ajarkan Merendahkan Perempuan

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Kamis, 2 Juli 2026 | 16:07 WIB
Anggota DPR RI Atalia Praratya kritik lagu Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein yang berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejad. (DPR RI/Mentari)
Anggota DPR RI Atalia Praratya kritik lagu Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein yang berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejad. (DPR RI/Mentari)

SENAYANPOST - Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menyampaikan kritik terhadap lagu yang dibuat Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein.

Lagu karya Saepul tersebut berjudul 'Lalaki Langit Lalanang Bejad'.

Menurutnya, lirik lagu tersebut tidak mencerminkan penghormatan terhadap perempuan maupun nilai-nilai budaya Sunda.

Melalui unggahan di media sosial, Atalia mengaku tidak menemukan sisi positif dari narasi yang disampaikan dalam lagu tersebut.

Baca Juga: Produksi Beras Diprediksi Tembus 25 Juta Ton, Indonesia Perkuat Swasembada Pangan

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia pada 1 Juli 2026, dikutip SenayanPost.com dari Instagram @ataliapr.

Ia mempertanyakan alasan pemilihan lirik tersebut, padahal menurutnya bahasa Sunda memiliki banyak pilihan kata yang indah dan sarat makna.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah, dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan, mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" ujarnya.

Atalia juga menilai budaya Sunda dibangun di atas nilai-nilai luhur yang mengedepankan kasih sayang, pendidikan, saling membimbing, dan saling menghargai.

Baca Juga: Bupati Purwakarta Buka Suara soal Lagu Lalaki Langit yang Dianggap Rendahkan Perempuan

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," katanya.

Lebih lanjut, Atalia menyoroti ironi di tengah upaya mendorong kesetaraan gender dan menghapus budaya patriarki.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" tulisnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Instagram @ataliapr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X