khazanah

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

Oleh Mukti Ali Qusyairi

Tiba-tiba saja teringat masa-masa hidup di Asrama Al-Azhar Madinatul al-Bu'uts di Abbasiyah Kairo Mesir. Saya sekamar dengan Wahyudi aktivis garda depan Muhammadiyah, se-'imarah (segedung) dengan Toyyib Arifin cowok klasik hobi masak, bertetangga dengan Anis Mashduqi yang suka diskusi, Subhan Anshori yang suka ngobrol banyak hal dari soal kehidupan sampai soal pemikiran al-Jabiri, Kang Imam Muttaqin senior yang suka membimbing dan melindungi kami sebagai juniornya, Mukhlisin suka sufi dan ngetik Arab, Munirul Ikhwan suka bahasa Perancis, dan masih banyak yang lain.

Saya dan Wahyudi ikut bergabung masak di kamar Toyyib. Karena memang Toyyib adalah sahabat yang baik, suka memasak, menolong, humoris nan kocak.

Subhan Anshori menjuluki Toyyib sebagai "ibu angkat saya". Saya nyeletuk, kalau begitu "Wahyudi ayah angkat saya dong?"..hehe.

Ya, karena mereka berdua adalah senior di Asrama Al-Azhar yang mau menampungku ketika saya baru masuk ke Asrama. Mereka berdua di Mesir sejak kelas SMA.

Saya dan Wahyudi makan bareng di kamar Toyyib sambil nonton TV kecil ukuran 30 cm milik Toyyib. Yang sering tayang adalah opera humor Adil Imam, pelawak legendaris Mesir, dan berita.

Semula saya melihat kebiasaan teman-teman Asrama seperti Toyyib, Wahyudi, Subhan, dll ketika mendapatkan jatah makan ayam bakar atau ayam rebus, mereka membuang brutunya. Saya tanya ke Toyyib, mengapa brutunya dibuang? Jawab Toyyib, "tradisi di Jawa, kumali atau tidak elok kalau memakan brutu ayam".

Teman-teman yang lain pun menjawab yang sama. Wahyudi yang Muhammadiyah pun jawabannya begitu, karena tradisi tidak memakan brutu.

Saya bertanya lagi, "kira-kira apa alasannya tidak boleh memakan brutu?"
"Karena khawatir penyesalannya ada di belakang, geton ono ning guri.."
Saya membantah, "lah iya dong penyesalan memang ada di belakang, baik tidak makan brutu atau makan brutu. Sama saja, penyesalan ada di belakang".

Tapi ada yang jawab menggunakan analisa ilmiah, mungkin karena burtu itu banyak lemaknya. Gak baik untuk dimakan.

Ada yang bilang juga karena brutu itu pantat ayam. Jadi gak baik kalau kita memakan pantat binatang.

Dalam obrolan sambil makan di kamar Toyyib, bergabunglah Subhan Anshori dan Anis Mashduqi. Kadang dari luar asrama Mush'ab Muqoddas mampir bergabung ikut makan.

Ada yang bilang, kalau di beberapa daerah brutu itu hanya boleh dimakan oleh orangtua, dan tidak boleh dimakan anak kecil atau pemuda.

Saya meledek, oh iya tidak akan bisa mengalahkan yang tua. Orang tua tahu kalau brutu itu bagian ayam yang enak dimakan. Makanya yang enak untuk orang tua saja.

Halaman:

Tags

Terkini

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB