internasional

Yayasan Rahim Diskusikan Hubungan Indonesia-Israel Pasca Batalnya Piala Dunia U-20

Selasa, 9 Mei 2023 | 09:32 WIB
Tentara Israel lagi-lagi menyerang Yerusalem ketika warga Palestina melaksanakan ibadah salat di Al Aqsa. (Pixabay.com/DEZALB)

"Dengan dua prinsip itu, kita bisa melihat bahwa niat awal berpikir kita ketika melihat hubungan Israel-Palestina adalah terciptanya perdamaian dunia. Kita semua menentang penjajahan. Tetapi kita harus berpikir jernih. Banyak Soekarnois menentang kehadiran Timnas Israel di Indonesis. 'JASMERAH' kata mereka. Karena Soekarno dulu menolak Israel," jelasnya.

Sejarah, sambung Zainul, ada dua lini, yaitu fakta dan interpretasi masa lalu. Interpretasi banyak dan beragam. Jadi titik tekannya pada fakta sejarah. Kawasan yang ditempati Israel dan Palestina adalah kawasan bersama. Itu adalah kawasan tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam. Mereka menganggap kawasan sebagai tempat suci. Tidak ada penjajah dan dijajah.

Zainul melanjutkan, bahwa setelah holocaust, mudiknya kaum Yahudi ke Israel, dan pasca perang dunia, kawasan itu dibagi menjadi dua bagian; 55% untuk bangsa Arab dan 45% untuk bangsa Yahudi--mohon dikoreksi kalau salah. Pada tahun 1948 kaum Yahudi mendirikan Israel. Kemudian terjadi perang antara Arab dan Israel karena Arab tidak menerima pembagian wilayah itu dan tidak mengakui negara Israel. Arab menyerang Israel. Arab kalah dan Israel menang. Kemudian terjadi lagi perang 6 hari, dan Arab kalah lagi. Ini konsekuensi perang, karena Israel diserang. Sehingga wilayah Israel tambah luas.

"Yang menolak Timnas Isarel adalah Soekarnois dan PDIP. Soekarno sahabat karibnya Gamal Abdul Nasir yang hidup dalam keadaan Arab-Israel berperang. Sedangkan dinamika Isarel-Palestina pasca wafatnya Soekarno cukup signifikan. Ada perjanjian Oslo. Semua negara-negara Arab yang dulu perang dengan Israel di zaman Bung Karno malahan tahun 80-an melakukan normalisasi dengan Israel. Perubahan ini rupanya tidak dilihat oleh Soekarnois masa kini," imbuhnya.

Pandangan Zainul Maarif mendapat respon dari Leo Yuwono. Menurutnya, Indonesia selama ini bersahabat dengan negara-negara yang menjajah. Saat ini ada Tibet yang ingin merdeka dari China tetapi tidak bisa. Tetapi Indonesia tetap bersahabat dengan China. Dan masih banyak yang lain.

"Yerusalem yang mengadministrasi adalah Yordania, bukan Israel. Karena statusnya adalah wakaf Yordania. Umat Muslim bebas masuk kapan saja. Justru umat Yahudi yang dibatasi. Kubah Masa bait Sulaiman milik Yahudi. Tetapi demi perdamaian umat Yahudi dibatasi. Di Indonesia justru mengira Yerusalem dikuasai oleh Israel. Ini informasi yang salah," terangnya.

Leo menambahkan, kerugian yang dialami Indonesia sebenarnya sangat akibat batalnya perhelatan Piala Dunia U-20. Menteri Sandiaga Uno mengatakan bahwa Indonesia menderita kerugian sekitar 3,7 Triliun. Bahkan Muhammad Faishal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE), mengungkapkan bahwa total kerugiannya mencapai 100 Triliun. "Ada orang-orang yang menganggap tidak masalah mengorbankan triliyunan. Ini elitisme, orang-orang elit," katanya.


Batalnya penyelenggaraan Piala Dunia U-20 di Indonesia memang membawa dampak yang luar biasa besar, di antaranya terhadap relasi Indonesia-Israel ke depan. Menurut Roland Gunawan, setidaknya bisa dilihat dari dua aspek.

Pertama, aspek konstitusi. Di dalam konstitusi Indonesia, atau lebih tepatnya dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa "kemerdekaan adalah hak semua bangsa". Statemen ini, menurut Roland, memicu lahirnya banyak tafsir.

"Misalnya dari Kemenlu, yang ketika melihat fenomena penolakan terhadap Israel dan pembelaan untuk Palestina dari beberapa kelompok kecil di masyarakat, segera memberikan tafsir bahwa Israel adalah penjajah Palestina, dan karenanya Indonesia tidak mengakuinya sebagai negara dan tidak membuka hubungan diplomatis," jelas Roland.

Dikutip dari Permenlu No. 3/2019, di antaranya dinyatakan bahwa tidak ada hubungan secara resmi antara Pemerintah Indonesia dalam setiap tingkatan dengan Israel, termasuk dalam surat-menyurat dengan menggunakan kop resmi; tidak menerima delegasi Israel secara resmi dan di tempat resmi; tidak diizinkan pengibaran/penggunaan bendera, lambang, dan atribut lainnya serta pengumandangan lagu kebangsaan Israel di wilayah Republik Indonesia.

"Permenlu ini sepertinya akan menyulitkan setiap upaya yang dilakukan untuk membuka hubungan diplomatis Indonesia-Israel secara resmi. Apalagi jika yang menjadi presiden adalah tokoh yang sebelumnya menolak kehadiran Timnas U-20 Israel berlaga di Indonesia dengan alasan konstitusi. Dan itu akan berlanjut kalau ia ingin dua periode. Untuk menjaga kepercayaan masyarakat, ia akan terus menolak supaya terpilih lagi di Pemilu berikutnya," sambung Roland.

Kedua, aspek sosial. Di sini dampaknya bisa positif dan bisa negatif. Negatifnya adalah bahwa penolakan itu, apalagi juga didukung oleh kepada daerah, dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat. Di masyarakat ada pro dan kontra. Tetapi positifnya, justru karena perpecahan itu terlihat bahwa ternyata masyarakat Indonesia banyak yang menerima kehadiran Israel di Indonesia.

"Tentu itu adalah modal besar yang mungkin bisa memudahkan jalan kita melakukan upaya-upaya untuk memperkuat relasi Indonesia-Israel di berbagai bidang. Seperti kita tahu, saat ini, meski tidak secara resmi, antara Indonesia dan Israel terjalin hubungan yang baik, khususya di bidang ekonomi dan perdagangan, bahkan di bidang pertanian," lanjut Roland.

Modal lain, menurut Roland, adalah normalisasi hubungan dengan Israel oleh sejumlah negara Muslim di Timur Tengah, seperti UEA, Bahrain, dan seterusnya. Karena normalisasi ini, mereka menjadi negara-negara maju di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, pertanian, dan bidang-bidang lainnya.

Halaman:

Tags

Terkini