SENAYANPOST - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam ancaman ekonomi terbaru yang disampaikan pejabat Amerika Serikat terhadap Teheran.
Ia menilai kebijakan tekanan ekonomi Washington justru berpotensi memperburuk situasi dan memicu penolakan lebih besar dari masyarakat Iran.
Melalui unggahan di akun X pada Kamis, Araghchi menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai apa yang disebut sebagai 'Economic D-Day' terhadap Iran.
Dalam unggahannya, Araghchi turut menampilkan gambar yang menunjukkan utang nasional Amerika Serikat telah melampaui 40 triliun dolar AS.
Baca Juga: Cultural Counsellor Kedutaan Besar Iran dan Penulis Syiah Saudara Sekiblat Gaungkan Ukhuwah Islamiah
Menurut Araghchi, istilah 'Economic D-Day' yang digunakan Trump merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi yang tengah dihadapi Amerika Serikat.
"Apa yang disebut sebagai 'Economic D-Day' hanyalah pengalihan isu dari krisis yang dialami Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lonjakan biaya bunga," ujar Araghchi pada 20 Agustus 2026, dikutip SenayanPost.com dari IRNA News Agency.
Ia kemudian memperingatkan Washington agar tidak terus mempertahankan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Iran yang menurutnya telah gagal mencapai tujuan.
"Bersikeras melanjutkan kebijakan yang gagal hanya akan mendatangkan kekalahan lebih lanjut—serta kebencian dari rakyat Iran," katanya.
Baca Juga: Iran dan Oman Klaim Kemajuan Positif dalam Pembahasan Pengaturan Pelayaran Selat Hormuz
Araghchi juga menuding kebijakan tekanan ekonomi Amerika Serikat sebagai bentuk 'terorisme ekonomi' yang menurutnya dapat berdampak lebih luas terhadap perekonomian global dan kedaulatan negara lain.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat tengah melancarkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Iran.
Trump juga memperingatkan negara maupun institusi yang membantu Teheran akan menghadapi konsekuensi berat.
Ketegangan ekonomi antara Washington dan Teheran tersebut menjadi bagian dari tekanan AS terhadap Iran, di tengah berlanjutnya perselisihan kedua negara terkait kebijakan ekonomi, keamanan, dan program nuklir Iran.***