Ia juga mengatakan para pemuka agama dan gereja Kristen menghadapi tekanan akibat serangan kelompok ekstremis serta kebijakan yang dinilai mengancam kepemilikan properti gereja.
Terkait Masjid Al-Aqsa, Safadi menuduh Israel berupaya mengubah status quo historis dan hukum yang selama ini berlaku di kompleks tersebut, sekaligus mengikis identitas Islam dari masjid tersebut.
Ia menambahkan bahwa kebijakan Israel di Yerusalem merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat pendudukan di Tepi Barat serta melemahkan prospek solusi dua negara, yang menurutnya masih menjadi satu-satunya jalan menuju perdamaian yang adil.
Komite menteri Arab yang mengikuti pertemuan terdiri atas Yordania, Tunisia, Aljazair, Arab Saudi, Somalia, Irak, Qatar, Mesir, dan Maroko, bersama Sekretaris Jenderal Liga Arab.
Yordania menjadi tuan rumah pertemuan tersebut sebagai negara yang memegang peran sebagai penjaga situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem.
Pertemuan berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Arab dan Muslim terhadap berbagai kebijakan Israel yang dinilai dapat mengubah identitas, warisan keagamaan, dan status quo historis Yerusalem.***