SENAYANPOST - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengungkapkan kesaksian saat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dibom oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Saat itu, Menlu Araghchi sedang berada di kompleks yang sama usai bertemu dengan Ali Khamenei.
Ia menyebut peristiwa itu sebagai salah satu momen paling berat dalam hidupnya.
Dalam keterangannya, Araghchi mengatakan dirinya baru kembali ke Teheran setelah mengikuti perundingan di Jenewa.
Baca Juga: Di Tengah Ketegangan, Donald Trump Akui AS Picu Eskalasi dengan Iran
Pada pagi hari sebelum serangan, ia mendatangi kantor Ayatollah Khamenei untuk memberikan laporan mengenai hasil pembicaraan diplomatik serta meningkatnya ancaman perang.
Menurut Araghchi, bangunan tempat pertemuan berlangsung menjadi sasaran serangan. Sebagian gedung mengalami kerusakan parah, sementara area tempat dirinya berada tidak terkena dampak langsung.
"Saya berada di gedung kantornya pada saat serangan terjadi," kata Araghchi pada 4 Juni 2026, dikutip SenayanPost.com dari Al Mayadeen English.
Ia menuturkan bahwa saat serangan berlangsung, kekhawatiran utamanya bukanlah keselamatan pribadi, melainkan kondisi Ayatollah Khamenei yang diyakini berada di kompleks tersebut.
Baca Juga: Donald Trump, Sanksi, dan Israel Jadi Batu Sandungan Kesepakatan Damai Amerika Serikat dan Iran
"Pikiran dan kekhawatiran pertama saya adalah kondisi Pemimpin," ujarnya.
Khamenei Disebut Enggan Meninggalkan Rakyatnya
Araghchi mengatakan Ayatollah Khamenei dikenal sebagai sosok yang tidak ingin meninggalkan rakyatnya, bahkan ketika ancaman militer semakin meningkat.