SENAYANPOST - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak memperketat syarat dalam negosiasi perdamaian dengan Iran.
Trump dilaporkan menuntut komitmen tambahan dari Iran terkait program nuklirnya dan mengancam akan mengambil tindakan militer jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Berdasarkan laporan New York Times dan Axios pada hari Sabtu yang mengutip sejumlah pejabat terkait, langkah ini menjadi perubahan drastis dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Pada hari Kamis (28/5/26) sebelumnya, kedua negara dilaporkan telah menyepakati sebuah nota kesepahaman.
Baca Juga: Link Nonton dan Spoiler Filing for Love Episode 12 Sub Indo, Tayang Terakhir Malam Ini!
Kesepakatan awal tersebut dirancang untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang dicapai pada bulan April selama 60 hari ke depan, sekaligus memulai kembali perundingan mengenai program nuklir Iran.
Namun, situasi berubah drastis sehari kemudian ketika Trump memanggil para penasihat keamanan nasional seniornya ke Situation Room di Gedung Putih.
Menurut laporan New York Times, Trump mulai merasa khawatir terhadap ketentuan dalam usulan kesepakatan yang akan mencairkan aset-aset Iran yang sebelumnya dibekukan. Ia juga merasa frustrasi dengan lambatnya respons Teheran terhadap proposal-proposal sebelumnya.
Perubahan syarat secara sepihak ini sengaja dirancang untuk memberikan tekanan yang lebih besar kepada para pemimpin Iran. Sejalan dengan hal itu, laporan Axios yang mengutip pejabat senior Amerika Serikat menyebutkan bahwa Trump mendesak agar draf dokumen perdamaian memuat rincian yang lebih spesifik mengenai kapan dan bagaimana Amerika Serikat akan mengambil alih pasokan uranium yang diperkaya milik Iran.
Dalam wawancaranya dengan Fox News pada hari Sabtu, Trump menegaskan tekadnya untuk mendapatkan kesepakatan besar yang dapat menjamin secara mutlak bahwa tidak akan ada senjata nuklir di Iran.
Meskipun pada awalnya sempat menyatakan tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan, Trump pada akhirnya mengakui dalam wawancara yang sama bahwa situasi ekonomi dalam negerinya sedang mendesak.
"Saya terburu-buru karena harga bensin naik," terang Trump.
Ia bahkan melontarkan ancaman tajam bahwa Amerika Serikat akan "menyelesaikannya secara militer" jika Iran menolak tunduk pada tuntutannya.