SENAYANPOST - Harga minyak dunia kembali menguat di tengah belum adanya tanda penyelesaian ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia terus meningkat.
Minyak Brent pada perdagangan terbaru bergerak stabil di atas level 110 dolar AS per barel, dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan.
Sentimen pasar memburuk setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pekan lalu tidak menghasilkan terobosan berarti terkait krisis Iran.
Sebelumnya, muncul harapan bahwa Beijing dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk membantu meredakan kebuntuan diplomatik dengan Washington.
Baca Juga: Kedubes Rusia Klarifikasi Isu Diskon Minyak, Tegaskan Harga Ditentukan Mekanisme Pasar
Namun, harapan tersebut belum menunjukkan hasil konkret.
Sebaliknya, risiko konflik justru meningkat setelah serangan drone terhadap satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Uni Emirat Arab (UEA) pada akhir pekan lalu.
Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran.
"Waktu terus berjalan. Iran sebaiknya bergerak cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka," ujar Trump pada 17 Mei 2026, dikutip SenayanPost.com dari ING.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar energi global terhadap kemungkinan gangguan pasokan yang lebih luas.
Meski ketegangan meningkat, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mulai menunjukkan perbaikan terbatas.
Baca Juga: Mendag Budi Santoso Ungkap Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Minyak Goreng dengan Kebijakan DMO
Iran disebut telah mengizinkan sekitar 30 kapal melintasi selat strategis tersebut dalam dua hari terakhir.