SENAYANPOST - Rusia dan Indonesia tengah menjajaki kerja sama pasokan produk minyak bumi melalui skema kontrak jangka panjang, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilyov menyatakan bahwa Moskow telah menerima permintaan resmi dari Indonesia terkait pasokan minyak.
"Kami menerima permintaan dari mitra kami di Indonesia untuk pasokan produk minyak bumi. Saat ini kami sedang menyusun kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan," ujar Tsivilyov kepada Channel One, sebagaimana dikutip SenayanPost.com dari TASS News Agency.
Ia menambahkan bahwa kerja sama tersebut diarahkan pada skema sistemik dengan pengaturan jangka panjang, yang mencerminkan upaya kedua negara memperkuat stabilitas energi.
Baca Juga: Prabowo Subianto Terbang ke Rusia Bakal Temui Vladimir Putin, Ada Apa?
Sekitar seminggu yang lalu, dari pihak Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah membuka peluang impor minyak dari Rusia guna menjaga ketahanan energi nasional.
Indonesia, kata Bahlil, perlu bersikap fleksibel dalam pengadaan minyak mentah di tengah pasar global yang semakin ketat.
"Prioritas pemerintah adalah memastikan ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat," ujarnya, tanpa merinci volume maupun waktu realisasi kerja sama tersebut.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, yang turut memengaruhi jalur distribusi energi global, termasuk kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan dan harga energi dunia, mendorong sejumlah negara untuk mencari alternatif sumber pasokan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Baca Juga: Hegemoni Baru Washington: Rusia Waspadai Strategi Ketidakstabilan Global di Bawah Donald Trump
Sebelumnya, Kedutaan Besar Rusia di Jakarta juga menyatakan kesiapan Moskow untuk mempertimbangkan permintaan Indonesia terkait pasokan minyak.
Jika terealisasi, kerja sama ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mencerminkan langkah Indonesia dalam menavigasi dinamika geopolitik global dengan memperluas mitra strategis di tengah tekanan dan fragmentasi pasar internasional.***