internasional

Parlemen Iran Setujui RUU Biaya Tol untuk Kapal yang Lewat Selat Hormuz, Biayanya Capai Rp33,8 Miliar

Rabu, 1 April 2026 | 20:03 WIB
Parlemen Iran setujui biaya tol untuk kapal yang melewati Selat Hormuz, harganya fantastis hingga Rp33,8 miliar. (Unsplash.com/Scott Tobin)

Hal ini menyebabkan harga minyak global meroket, dengan harga satu barel minyak mentah melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS.

Beberapa kapal telah membayar otoritas Iran sekitar 2 juta dolar AS masing-masing untuk melewati jalur air tersebut tanpa hambatan, lapor Financial Times.

Baca Juga: Donald Trump Bantah 'Putus Asa' Kejar Kesepakatan Damai AS dengan Iran: Saya Tidak Peduli

Selat Hormuz, yang lebarnya hanya 39 kilometer di titik tersempit dan panjangnya 167 kilometer, telah lama menjadi salah satu jalur air terpenting di dunia.

Semua kapal dijamin bebas melewati selat internasional berdasarkan UNCLOS (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut), yang melarang pengenaan biaya transit.

Namun, Iran mengklaim tidak terikat oleh hal ini karena meskipun menandatangani perjanjian tersebut pada tahun 1982, mereka tidak meratifikasinya.

Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan kepada The Post bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali "secara otomatis" setelah perang berakhir.

"Saya pikir itu akan dibuka secara otomatis, tetapi sikap saya adalah, saya telah menghancurkan negara itu. Mereka tidak memiliki kekuatan lagi, dan biarkan negara-negara yang menggunakan selat itu, biarkan mereka pergi dan membukanya… karena saya membayangkan siapa pun yang mengendalikan minyak akan sangat senang untuk membuka selat itu," kata Presiden Trump kepada The Post pada hari Selasa, dikutip SenayanPost.com.

Baca Juga: Rencana AS Lancarkan 'Pukulan Terakhir' untuk Iran, Donald Trump Desak Teheran Setujui Kesepakatan

Presiden telah berjanji untuk memprioritaskan pengakhiran kendali Iran atas selat tersebut, dan mencegahnya untuk kembali menyandera ekonomi global.

"Kita akan merebut kembali Selat itu. Itu dijamin, dan mereka tidak akan pernah lagi memeras kita di selat itu," kata seorang pejabat senior pemerintahan kepada The Post pekan lalu.

"Anda bisa mempercayainya sepenuhnya," tambahnya.***

Halaman:

Tags

Terkini