internasional

Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi

Kamis, 22 Januari 2026 | 19:49 WIB
Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi (Dok. Senayan Post)

SENAYANPOST – Dalam konferensi pers di kediaman resminya di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026), Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan terkait eskalasi situasi di Teheran. Ia menilai narasi "revolusi rakyat" yang berkembang di media Barat sangat jauh dari realita di lapangan.

“Melalui berbagai cara, mereka (Amerika dan Israel) berusaha menundukkan Republik Islam Iran,” tegas Boroujerdi di hadapan para jurnalis.

Boroujerdi memaparkan bahwa eskalasi aksi di Iran terbagi dalam empat fase sistematis. Fase pertama dimulai pada akhir Desember 2025 melalui unjuk rasa damai para pedagang di Grand Bazaar Teheran yang mencemaskan merosotnya nilai tukar Rial akibat tekanan ekonomi AS.

Namun, memasuki fase kedua pada awal Januari, aksi mulai dibajak oleh pihak tertentu di mana aparat keamanan yang turun tanpa senjata justru menjadi korban utama saat menghadapi kekerasan massa yang mulai melakukan perusakan properti. Situasi berubah drastis pada fase ketiga.

Baca Juga: Sebulan Sebelum Ramadan, Warga Pidie Jaya Aceh Ini Pasrah Rumah Masih Penuh Lumpur Bekas Banjir

“Pada fase ketiga, kekerasan meluas dan disusupi oleh demonstran bersenjata api. Kami meyakini aksi ini telah disusupi oleh AS dan Israel,” ujarnya.

Boroujerdi memperkuat klaimnya dengan mengutip laporan media Israel mengenai keberadaan agen Mossad, serta pernyataan mantan Menlu AS, Mike Pompeo, yang mengeklaim dukungan AS bagi rakyat Iran di jalanan. Bahkan, ia menuding adanya perintah langsung untuk meningkatkan jumlah korban jiwa. Dalam kesempatan tersebut, Boroujerdi juga menyampaikan data resmi mengenai dampak fatal dari kerusuhan tersebut.

“Angka statistikal yang dikeluarkan oleh kepolisian forensik di Republik Islam Iran, 3.117 jiwa menjadi korban dari peristiwa belakangan ini. Di mana 2.427 masyarakat dianggap sebagai pihak yang mati syahid,” jelas Boroujerdi.

Terkait pemadaman internet yang dilakukan sejak Sabtu (10/1/2026), Dubes menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk memutus rantai provokasi. Akses internet dibatasi karena adanya instruksi penyebarluasan informasi yang salah dan penghasutan melalui platform digital oleh Donald Trump.

Baca Juga: Lagu Oemar Bakri Bergema di Sidang MK, Uang Pensiun Pejabat DPR Dinilai Ciptakan Ketimpangan Nyata bagi Warga RI

“Kepemimpinan terhadap kerusuhan berasal dari luar negeri. Mereka dengan menggunakan jaringan internet melalui berbagai media sosial, mencoba untuk memberikan instruksi dan arahan lebih lanjut kepada sel-sel dalam negeri mereka, dan maka dari itu untuk menghentikan upaya ini, kami membatasi dan menghentikan akses internet,” tuduh Boroujerdi.

Saat ini, Iran diklaim telah memasuki fase keempat, yaitu pemulihan. Pemerintah mengeklaim lebih dari 80 persen masyarakat menuntut agar kekerasan dihentikan dan para perusuh diadili. Boroujerdi juga mengeklaim bahwa sejak 12 Januari, lebih dari 20 juta warga Iran turun ke jalan untuk mendesak perwujudan kedamaian. Meski begitu, sampai saat ini akses internet belum sepenuhnya pulih.

Di akhir, Boroujerdi menegaskan bahwa stabilitas keamanan kini telah kembali di bawah kendali pemerintah. Ia meminta komunitas internasional, khususnya Indonesia, untuk melihat situasi secara objektif dan tidak terjebak dalam propaganda yang mengganggu stabilitas Timur Tengah.

“Saya tidak meminta kalian menulis berita yang mendukung atau menentang Iran. Saya hanya meminta kalian menuliskan fakta. Jika perlu, kami akan memfasilitasi jurnalis yang ingin terjun langsung ke negara kami untuk melihat kondisi sebenarnya,” pungkas Boroujerdi. *

Tags

Terkini