SENAYANPOST - Beberapa waktu yang lalu, dunia dikejutkan dengan aksi militer Amerika Serikat (AS) di Caracas, Venezuela.
Tepat pada 3 Januari 2026, militer AS menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istri, Cilia Flores atas tuduhan terlibat dalam perdagangan narkotika internasional.
Beberapa hari setelah Maduro, Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan aksi militer terhadap musuh-musuh AS lainnya.
Penangkapan Maduro dalam serangan AS pada 3 Januari telah mengguncang Teheran, sekutu dekat pemimpin Venezuela tersebut.
Baca Juga: Ayatollah Ali Khamenei Tanggapi Demonstrasi di Iran, Wanti-wanti Provokasi Musuh
Washington kemungkinan tidak akan melakukan operasi serupa di Iran.
Namun, serangan berani di Venezuela telah mengirimkan sinyal yang jelas kepada Teheran bahwa Amerika Serikat bersedia menggunakan kekuatan untuk menyingkirkan musuh-musuhnya, kata para ahli.
Trump baru-baru ini memperingatkan Iran bahwa Washington 'siap siaga' dan siap untuk campur tangan jika Teheran membunuh 'pengunjuk rasa damai' selama protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung.
Setidaknya 19 pengunjuk rasa tewas dalam demonstrasi baru-baru ini.
Khamenei Sendiri Bisa Menjadi Target
Para ahli mengatakan AS kemungkinan besar tidak akan mengulangi operasi Venezuela di Iran dan menggulingkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—yang telah berkuasa sejak 1989.
Baca Juga: Oposisi Israel Ingatkan Iran Usai Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap AS
Habib Hosseinifard, seorang analis politik yang berbasis di Jerman, mengatakan Venezuela terletak di 'halaman belakang' strategis AS sedangkan Iran terletak ribuan kilometer jauhnya di Timur Tengah.
Republik Islam itu juga memiliki kemampuan militer yang lebih besar dan sistem politik yang lebih mapan, katanya.