"Setiap langkah yang kami ambil melayani kepentingan Suriah dan memulihkan peran pentingnya di kawasan dan dunia internasional," ujarnya.
"Dunia telah terbuka bagi Suriah untuk memanfaatkan lokasi strategis dan pengaruh regionalnya dalam membangun stabilitas," lanjutnya.
Beralih ke isu domestik, Al Sharaa mengatakan Suriah sedang bergerak menuju stabilitas dan pertumbuhan ekonomi setelah bertahun-tahun dilanda konflik.
"Suriah beralih dari satu sistem pemerintahan ke sistem pemerintahan lainnya setelah keberhasilan revolusi rakyat. Meskipun menghadapi beberapa tantangan, negara ini berada di jalur yang positif,” ujarnya.
Al Sharaa menekankan pentingnya pemulihan ekonomi dalam mencapai stabilitas dan mencatat upaya berkelanjutan dengan Amerika Serikat untuk mencabut Undang-Undang Caesar, yang diberlakukan untuk meminta pertanggungjawaban rezim sebelumnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti kemajuan dalam tata kelola dan reformasi hukum, dengan mengatakan bahwa representasi dalam pemerintahan sekarang didasarkan pada prestasi, bukan kuota sektarian, dan bahwa lembaga, bukan individu, adalah fondasi untuk membangun kembali Suriah.
"Memperkuat akuntabilitas di bawah hukum dan mengembangkan peran kelembagaan adalah jalan menuju pembangunan negara dan menjamin hak-hak setiap orang," jelasnya.
Al Sharaa juga menambahkan bahwa setelah pembebasan, Suriah mengadakan konferensi dialog nasional komprehensif yang menghasilkan deklarasi konstitusional sementara.
Deklarasi ini memberikan mandat lima tahun kepada presiden, di mana banyak undang-undang akan disahkan dan konstitusi akan disusun. Pemilu dijadwalkan akan berlangsung setelah empat tahun.
Di forum tersebut, ia juga membahas perlindungan hak-hak sipil, dengan mengatakan bahwa Suriah telah memutus rantai penjara yang represif, termasuk Saydnaya, dan berkomitmen pada pemberdayaan perempuan.
"Perempuan Suriah terintegrasi sepenuhnya dalam masyarakat dan berpartisipasi dalam pemerintahan dan Majelis Rakyat," ujarnya.
Terakhir, Al Sharaa menyoroti sejarah panjang koeksistensi dan perdamaian sipil Suriah.
"Suriah mendefinisikan arti koeksistensi dan telah memberi dunia pelajaran tentang perdamaian sipil. Semua lapisan masyarakat Suriah berpartisipasi dalam revolusi," pungkasnya.***