Sumber-sumber militer mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa posisi baru tersebut memberi Israel 'keuntungan strategis' dalam memantau jalan raya Damaskus-Beirut dan dalam mengungkap rute penyelundupan senjata ke Hizbullah di Lembah Beqaa, Lebanon.
Mereka menambahkan bahwa kendali atas Gunung Hermon telah menjadi prioritas utama, karena memungkinkan Israel untuk memantau kedua sisi Dataran Tinggi Golan.
Baca Juga: Rusia Sambangi Suriah, Tawarkan Mediasi dengan Israel Penjajah
Laporan tersebut juga mengklaim bahwa tentara Israel 'berkomunikasi dengan penduduk beberapa desa Druze di pedesaan Damaskus', yang memberikan informasi tentang tempat penyimpanan senjata dan roket jarak pendek rezim Suriah.
Sejak jatuhnya Assad, Israel telah mempertahankan kendali atas Gunung Hermon dan telah berulang kali melakukan serangan udara yang telah 'membunuh warga sipil dan menghancurkan lokasi serta peralatan militer Suriah', menurut Yedioth Ahronoth.
Serangan dan Penangkapan
Israel menyatakan keinginannya untuk menciptakan zona demiliterisasi di Suriah selatan guna mencegah serangan serupa pada 7 Oktober 2023.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, dalam sebuah wawancara dengan The Jerusalem Post pada 28 Desember 2024.
Sejak jam-jam pertama keruntuhan Assad, banyak situs militer rezim, terutama sistem pertahanan udara, diserang secara hebat, sehingga sebagian besar tidak dapat digunakan.
Dalam beberapa bulan terakhir, para pejabat Suriah dan Israel telah mengadakan perundingan keamanan, beberapa di antaranya dilakukan secara langsung dan yang lainnya dimediasi oleh Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab.
Israel juga terus melakukan serangan darat dan penangkapan di Suriah selatan. Yang terbaru terjadi pada 11 September, ketika pasukan Israel menangkap seorang ayah dan putranya di desa Abidin (pedesaan Daraa barat, Suriah selatan).***