Qatar telah menjadi mediator dalam upaya mengatur kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Palestina di Gaza, pembebasan sandera Israel yang ditahan Hamas, dan rencana perdamaian jalur kantong itu pascakonflik.
Setelah serangan tersebut, Trump berbicara dengan Netanyahu dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Ia meyakinkan pemimpin Qatar bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi lagi di Qatar.
seraya menambahkan bahwa ia merasa "sangat tidak enak" dengan lokasi serangan tersebut.
Trump kemudian mengatakan kepada para wartawan di Washington bahwa ia "tidak senang" dengan serangan Israel di Qatar.
"Saya tidak senang dengan hal itu," kata Trump.
"Ini bukan situasi yang baik, tetapi saya akan mengatakan ini: Kami ingin para sandera kembali, tetapi kami tidak senang dengan bagaimana kejadian hari ini," imbuhnya.
Baca Juga: Israel Penjajah Peringatkan Warga Kota Gaza Mengungsi, Klaim Menara Tinggi Jadi Markas Hamas
Saat Trump menyampaikan komentar tersebut, para pengunjuk rasa pro-Palestina yang berkumpul di dekatnya meneriakkan "Bebaskan Palestina" dan "hentikan genosida bersenjata."
Serangan Israel, sekutu AS, di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang, membuat seluruh penduduk Gaza mengungsi, dan memicu krisis kelaparan.
Banyak pakar dan akademisi hak asasi manusia mengatakan serangan militer Israel di Gaza merupakan genosida.
Israel menyatakan tindakannya merupakan bentuk pembelaan diri setelah serangan Oktober 2023 oleh Hamas yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang, menurut penghitungan Israel.
Israel juga telah mengebom Lebanon, Suriah, Iran, dan Yaman selama konflik Gaza.***