internasional

Mantan Kepala Intelijen Israel Desak Netanyahu Hentikan Perang di Jalur Gaza, Sebut Hamas Bukan Lagi Ancaman Strategis Zionis

Selasa, 5 Agustus 2025 | 14:05 WIB
Mantan kepala intelijen Israel mendesak agar Netanyahu segera menghentikan perang di Jalur Gaza dan menyebut Hamas bukan ancaman strategis. (X.com/@IsraeliPM)

SENAYANPOST - Sejumlah mantan kepala intelijen Israel mendesak agar perang di Jalur Gaza dihentikan.

Diketahui, Israel telah melakukan agresi ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 setelah kelompok perlawanan Palestina yang dipimpin Hamas melakukan serangan kejutan.

Dalam sebuah video yang disiarkan oleh media Israel pada hari Minggu, para mantan kepala Mossad, Shin Bet, kepolisian, dan intelijen militer semuanya mendesak agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menghentikan perang.

Lebih lanjut, ini adalah perang terpanjang sejak berdirinya negara Zionis tersebut.

Tidak hanya itu, para mantan kepala intelijen juga telah mengirim surat yang ditandatangani oleh 550 orang yang isinya mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar menekan Netanyahu.

Baca Juga: Qatar dan Mesir Minta Hamas Lucuti Senjata, Syarat Solusi Dua Negara Israel dan Palestina

"Hentikan Perang Gaza! Atas nama (Komandan Keamanan Israel), kelompok terbesar mantan jenderal IDF (Tentara Israel) Israel dan setara dengan Mossad, Shin Bet, Kepolisian, dan Korps Diplomatik, kami mendesak Anda untuk mengakhiri perang Gaza," bunyi surat itu pada 4 Agustus 2025, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.

"Anda melakukannya di Lebanon. Saatnya melakukannya di Gaza juga."

Para penandatangan surat tersebut mencakup lima mantan kepala Shin Bet—Ami Ayalon, Nadav Argaman, Yoram Cohen, Yaakov Peri, dan Carmi Gillon—serta tiga mantan kepala staf militer, termasuk mantan perdana menteri Ehud Barak, dan mantan menteri pertahanan Moshe Yaalon.

Surat tersebut menyebutkan penderitaan para tawanan Israel di Gaza, yang bersama dengan warga Palestina menderita akibat blokade bantuan Israel yang diberlakukan, sebagai alasan utama untuk mengakhiri pertempuran.

Baca Juga: Utusan AS Steve Witkoff Temui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Bicarakan Dua Hal Penting Ini

"Menurut penilaian profesional kami, Hamas tidak lagi menjadi ancaman strategis bagi Israel, dan pengalaman kami menunjukkan bahwa Israel memiliki semua yang diperlukan untuk menghadapi sisa kemampuan terornya, baik dari jarak jauh maupun dengan cara lain," kata mereka.

"Pengejaran para pejabat senior Hamas yang tersisa dapat dilakukan nanti. Para sandera kami tidak bisa menunggu," tambahnya.

Sekitar 50 tawanan yang ditawan selama serangan Hamas ke Israel selatan pada Oktober 2023 diperkirakan masih ditahan di Gaza, termasuk 30 orang yang diyakini telah tewas.

Halaman:

Tags

Terkini