SENAYANPOST - Pemimpin baru Suriah, Abu Mohammad Al Julani atau Ahmad Al Sharaa mengatakan bahwa negaranya tidak tertarik untuk terlibat di tengah bombardir Israel belum lama ini.
Sebagaimana diketahui, Al Julani berhasil menggulingkan pemerintah Bashar Al Assad, setelah keluarga itu memerintah Suriah selama lima dekade.
Al Julani merupakan pemimpin kelompok Hayat Tahrir Al Sham (HTS) setelah sebelumnya sempat menjadi pentolan Al Qaeda di Suriah.
Sejak Assad digulingkan, Israel langsung mengambil kesempatan dengan memindahkan kendaraan militernya ke zona demiliterisasi di dalam Suriah yang dibuat setelah perang Arab-Israel tahun 1973.
Baca Juga: Israel Kirim Pesan ke Abu Mohammad Al Julani Penguasa Baru di Suriah, Ini Isinya
Israel juga diketahui telah menguasai Gunung Hermon yang strategis menghadap Damaskus sekaligus mengambil alih pos militer Suriah yang ditinggalkan.
Israel, yang telah mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk tinggal di sana dan menyebut serangan ke wilayah Suriah sebagai tindakan terbatas dan sementara untuk memastikan keamanan perbatasan, juga telah melakukan ratusan serangan terhadap persediaan senjata strategis Suriah.
Beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania, mengecam apa yang mereka sebut sebagai perebutan zona penyangga di Dataran Tinggi Golan oleh Israel.
Baca Juga: Hari ke-435, Hamas Tegaskan Ingin Akhiri Perang di Jalur Gaza dengan Israel
"Argumen Israel telah menjadi lemah dan tidak lagi membenarkan pelanggaran mereka baru-baru ini. Israel telah jelas melewati batas keterlibatan di Suriah, yang menimbulkan ancaman eskalasi yang tidak beralasan di wilayah tersebut," kata Abu Mohammad Al Julani pada 14 Desember 2024, dikutip SenayanPost.com dari Reuters.
"Kondisi Suriah yang lelah karena perang, setelah bertahun-tahun dilanda konflik dan perang, tidak memungkinkan terjadinya konfrontasi baru. Prioritas pada tahap ini adalah rekonstruksi dan stabilitas, bukan terseret ke dalam perselisihan yang dapat menyebabkan kehancuran lebih lanjut," tambahnya.
Ia juga mengatakan solusi diplomatik adalah satu-satunya cara untuk memastikan keamanan dan stabilitas dan bahwa 'petualangan militer yang tidak diperhitungkan' tidak diinginkan.
Baca Juga: Gara-Gara Nyamuk Australia Keluarkan Travel Warning ke Bali
Mengenai Rusia, yang intervensi militernya hampir satu dekade lalu membantu menguntungkan Assad dan yang memberikan suaka kepada pemimpin yang digulingkan awal minggu ini, Al Julani mengatakan bahwa hubungannya dengan Suriah harus melayani kepentingan bersama.