"Warga sipil dibiarkan kelaparan dan dibom di rumah dan tenda mereka," tambahnya.
Pada bulan Juli, ICJ mengonfirmasi ilegalitas pendudukan dan aneksasi Israel atas tanah Palestina setelah konflik tahun 1967.
"Setiap upaya untuk mengubah integritas teritorial Gaza merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," imbuh mereka.
Program Pangan Dunia (WFP) mengumumkan minggu lalu bahwa ketahanan pangan di Gaza utara terancam, karena tidak ada bantuan pangan yang masuk ke wilayah tersebut sejak 1 Oktober.
Tiga rumah sakit, yang sudah kewalahan oleh konflik, terdampak oleh operasi militer yang sedang berlangsung di utara.
Pada hari Rabu, dokter di rumah sakit Kamal Adwan, Al Awda, dan Indonesia mengumumkan penolakan mereka untuk meninggalkan pasien.
Baca Juga: AS Ultimatum Israel untuk Atasi Krisis Kemanusiaan di Gaza, Paman Sam Ancam Putus Pasokan Senjata
"Militer Israel telah menghubungi kami lebih dari sekali untuk mengevakuasi rumah sakit," kata Mohammed Salha, pejabat direktur RS Al Awda.
"Departemen-departemen penuh dengan orang-orang yang terluka dan kami memulangkan bahkan mereka yang terluka dengan luka ringan atau sedang karena kami tidak memiliki tempat tidur untuk mereka," ungkapnya.
"Saya (mengatakan kepada militer Israel) dengan jelas bahwa kami tidak akan mengevakuasi rumah sakit kecuali ada ambulans yang dapat menyelamatkan nyawa orang-orang yang terluka dan mencapai rumah sakit lain yang menyediakan layanan yang lebih baik bagi mereka," tegasnya.***