SENAYANPOST - Israel penjajah lagi-lagi tolak usulan gencatan senjata yang ditawarkan gerakan Perlawanan Palestina, Hamas belum lama ini.
Sebagaimana diketahui, negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Perlawanan Palestina terus berlangsung selama enam bulan terakhir.
Berkali-kali Israel menolak usulan gencatan senjata yang diusulkan Hamas lewat mediator Qatar dan Mesir.
Namun, Israel memberikan peluang bagi warga Gaza yang saat ini mengungsi ke daerah selatan untuk pulang ke rumah masing-masing yang ada di utara.
Hamas telah menyampaikan empat tuntutan utama: gencatan senjata, penarikan pasukan Israel dari Gaza, kembalinya warga sipil yang kehilangan tempat tinggal, dan pertukaran tahanan yang berarti.
Namun informasi yang bocor mengenai respons rezim Israel menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara posisi kedua pihak.
Sikap pendudukan Israel digambarkan sebagai 'tidak fleksibel' oleh sumber-sumber tersebut.
Selain itu, mengenai pertukaran tahanan, tarif yang diusulkan pendudukan Israel dipandang tidak memadai, sehingga menyebabkan pengurangan signifikan dalam jumlah tahanan Palestina yang dijadwalkan untuk dibebaskan, tambah sumber-sumber Palestina.
Kebuntuan dalam negosiasi dan respons Israel yang kaku bertentangan dengan visi Hamas dan Perlawanan bahwa setiap kesepakatan harus sejalan dengan tuntutan mereka yang adil dan fleksibel.
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan pada hari Selasa bahwa emiratnya 'sangat optimis' mengenai potensi gencatan senjata di Gaza, dengan negosiasi 'teknis' yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Mulai Melunak, Israel Penjajah Beri Sinyal ke Hamas soal Pengungsi untuk Kembali ke Gaza Utara
"Kami belum mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza, tapi kami tetap berharap. Tujuan utama berikutnya dari negosiasi ini adalah untuk mengirimkan proposal balasan ke Hamas," kata Majed Al Anshari pada 24 Maret 2024, dikutip SenayanPost.com dari Al Mayadeen English.
Di bagian lain pidatonya, Al Ansari menekankan bahwa invasi Israel ke Rafah akan berdampak negatif terhadap pencapaian kesepakatan dan menyebabkan kehancuran yang signifikan serta kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.