Pengamat Politik Arab Saudi Khalid Al Adod
Beberapa orang mungkin terkejut dengan judul tersebut, dan yang lain mungkin mengesampingkan kebenarannya. Namun, hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Ikhwanul Muslimin (IM) dimulai pada tahun 1950an, ketika Presiden Amerika Eisenhower bertemu dengan para pemimpin senior Gerakan-gerakan islamis dari seluruh dunia, termasuk Said Ramadan, menantu Hassan al-Banna.
Pada awalnya, Amerika menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai alat yang canggih untuk menghadapi komunisme dan pengaruh Uni Soviet. Dari pertengahan dekade 1950-an hingga invasi ke Afganistan, hubungan di antara mereka tidak jelas.
Namun hubungan Ikhwanul Muslimin dengan Amerika Serikat terungkap melalui dukungan Amerika Serikat terhadap para pejuang Afganistan di 1978, ketika pemikiran Ikhwanul Muslimin mewakili titik awal ideologis bagi para pejuang ini. Mereka yang disebut sebagai “Mujahidin” untuk mendandani mereka dengan pakaian Islami, sebelum mereka beralih ke tahap intelektual dan gerakan yang lebih ekstremis, yaitu terorisme.
Namun, secara resmi, Ikhwanul Muslimin aktif di Amerika pada tahun 1980-an, dengan membentuk sel-sel organisasi di berbagai negara bagian, dengan misi adalah untuk membangun akar mereka di tempat mereka berada dengan mempengaruhi sebanyak mungkin orang untuk bergabung atau hanya sekedar menerima Ikhwanul Muslimin. Mereka membentuk lingkungan baru dan merawat pendatang baru dari Negara Arab dan Negara Islam yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin.
Kemudian mereka mendirikan sekolah, masjid dan klinik untuk memperluas pengaruh Ikhwanul Muslimin dalam komunitas Arab di Amerika. Aktifitas tersebut berkembang hingga merambah ke dalam masyarakat Amerika itu sendiri, dan Ikhwanul Amerika dapat berpartisipasi dalam kehidupan politik, yang memungkinkan Ikhwanul Muslimin memimpin komunitas Islam di Amerika. Dengan demikian, memungkinkan Ikhwanul Muslimin mencapai Gedung Putih sebagai representasi Umat Islam di Amerika serta menjalin hubungan baik dengan berbagai rezim pemerintahan di Amerika Serikat secara berkesinambungan.
Ketertarikan Amerika terhadap Ikhwanul Muslimin dimulai pada akhir Perang Dunia II, ketika intelijen Amerika menemukan bahwa Hitler tertarik pada Ikhwanul Muslimin melalui pribadi Saeed Ramadan. Intelijen Nazi membeli sebuah masjid untuk Saeed Ramadan di kota Munich, yang masjid tersebut hingga sekarang disebut “Islamic Center.” Ini adalah basis aktifitas Ikhwanul Muslimin di Eropa hingga saat ini.
Beberapa analis percaya bahwa apa yang menarik perhatian orang Amerika terhadap kelompok teroris adalah kumpulan artikel yang diterbitkan oleh majalah Ikhwanul Muslimin yaitu “Majalah Al-Nazir,” yang ditulis oleh Hassan Al-Banna, di mana ia memihak Hitler melawan komunisme. Lebih dari 10 (sepuluh) artikel di majalah tersebut pada tahun 1938, sebelum majalah tersebut dibajak oleh kelompok yang bernama “Syabab Muhammad”, di mana Hasan Al-Banna mengklaim bahwa negara-negara Aliansi Barat akan mengakui Islam sebagai agama resmi negara, dan akan mendirikan sekolah-sekolah untuk mengajar Bahasa Arab, dan berbagai angan-angan lainnya.
Ikhwanul Muslimin didirikan di Amerika Serikat, setelah Amerika Serikat membuka pintunya bagi para anggota Ikhwanul Muslimin, khususnya studi di Universitas Illinois, Indiana, dan Michigan. Para mahasiswa ini mendirikan cabang pertama organisasi tersebut dengan nama The Islamic Society in North America (ISNA) pada tahun 1963 sebagau awal dari aktifitas organisasi Ikhwanul Muslimin di Amerika Serikat. ISNA kemudian mendominasi sebagian besar masjid, asosiasi, dan pusat-pusat keislaman di Amerika Serikat. Salah satu aktifisnya, Muhammad Hamid Al-Ahmari dari Qatar bekerja di ISNA selama lebih dari 14 tahun.
Dengan meningkatnya kehadiran Ikhwanul Muslimin di Amerika Serikat, organisasi tersebut menolak menggunakan nama “Ikhwanul Muslimin” atau bahkan mengaku sebagai organisasi cabang dalam aktivitas mereka di Amerika Serikat. Mereka memilih nama yang tidak mengungkapkan kelompok teroris dan identitasnya guna menggapai tujuan yang telah ditetapkan. Berbeda dari tujuan tersembunyi mereka, yang muncul kemudian, dan oleh karena itu mereka menjadikan tujuan dari banyak organisasi dan asosiasi mereka di Amerika Serikat, untuk melestarikan identitas ideologis dan pemahaman keagamaan yang radikal, untuk melindungi diri mereka dari operasi keamanan dari pemantauan, penangkapan atau penyelidikan.
Selama 30 tahun hingga akhir dekade 1990an, Ikhwanul Muslimin mengadakan konferensi di sebuah kota besar di Amerika pada bulan September, dan mereka menerbitkan sebuah majalah bernama “Ufoq.” Ahmed Al-Qadi dianggap sebagai Muroqib Am (Pemimpin Tertinggi level cabang) Ikhwanul Muslimin yang pertama di Amerika Serikat. Ahmed Al-Qadi lahir di distrik Desouk di provinsi Kafr El-Sheikh Mesir.
Organisasi-organisasi sayap terpenting dari Ikhwanul Muslimin ini di Amerika Serikat adalah perkumpulan mahasiswa di berbagai universitas, organisasi dan yayasan, dan yang paling penting di antara itu adalah The Islamic Waqf of North America (1973), The Islamic Circle of North America (1979), The Islamic Society of North America (1983), SAR Foundation (1983), (International Institute of Islamic Thought (1985), Fiqh Council of North America (1986), Holy Land Organization for Relief and Development (1988), Islamic Council for Public Affairs (1988), The American Islamic Council (1990), CARE (1994), dan The Islamic Fund of North America (2001).