SENAYANPOST - Perang antara Palestina dan Israel membuat masyarakat di Indonesia, melakukan aksi dukungan terhadap masyarakat Palestina.
Tak hanya di Indonesia, aksi dukungan terhadap rakyat Palestina juga digelar di berbagai negara.
Menurut Dr. Zuhair Al Syun, Duta Besar Palestina untuk Indonesia mengungkapkan, dukungan internasional dari masyarakat Indonesia dan berbagai negara tersebut, merupakan dukungan upaya Palestina untuk merdeka.
"Dukungan rakyat ini berbagai aksi baik dilakukan di Indonesia atau negara lain ini, justru akan mengucilkan Amerika dan negara barat," ungkap Dr. Zuhair Al Syun, kepada Senayan Post dalam wawancara eksklusif.
Baca Juga: Indonesia akan Kirim Kapal Rumah Sakit ke Palestina, Duta Besar Palestina di Indonesia Bilang Begini
Selain itu, Dr. Zuhair Al Syun menjelaskan bahwa, perang yang kini terjadi bukan perang antara Hamas dengan Israel.
"Tapi rakyat Palestina, bahkan di tepi barat pun ada peperangan dan masyarakat Palestina di Tepi Barat pun ada korban," jelas Dr. Zuhair Al Syun.
Disamping itu, pemerintah Palestina telah bergetak secara politik, mendekati negara-negara Arab dan Negara Islam untuk menghentikan peperangan ini.
"Pertempuran yang terjadi di Palestina ini merupakan kegagalan politik tahun-tahun yang lalu sehingga mau tidak mau harus segera diselesaikan," beber Dr. Zuhair Al Syun.
Baca Juga: Otoritas Palestina : Mesir Tolak Keras Keinginan Israel Periksa Bantuan Kemanusiaan
Seperti diberitakan, serangan Israel di Gaza dalam perang yang sudah berlangsung selama sebulan terus menambah jumlah korban jiwa, yang didominasi oleh warga sipil.
Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan bahwa jumlah korban tewas di Gaza, per Selasa 7 November 2023 telah mencapai 10.328 orang, bertambah lebih dari 300 orang dalam sehari, jumlah korban tersebut mencakup lebih dari 4.200 anak-anak.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan rata-rata 160 anak terbunuh setiap hari di Gaza akibat perang Israel dan Palestina.
"Tingkat kematian dan penderitaan sulit diperkirakan," bulang Christian Lindmeier, juru bicara WHO kepada wartawan.