SENAYANPOST - Dalam suasana media internasional yang kini dipenuhi narasi pro-HTS dan upaya rehabilitasi citra Ahmad Al Sharaa atau dikenal sebelumnya Abu Mohammad Al Jolani sebagai pemimpin demokratis Suriah pasca kejatuhan Assad, wawancara lawas Bashar Al Assad pada tahun 2016 kembali relevan.
Bukan untuk membenarkan rezim Assad, tetapi untuk menunjukkan bagaimana istilah 'terorisme', 'legitimasi', dan 'perlawanan' sejak lama menjadi alat propaganda berbagai pihak, termasuk Barat, Assad, dan kelompok bersenjata seperti HTS.
Artikel ini bertujuan menghadirkan perspektif penyeimbang di tengah narasi tunggal yang sedang digencarkan.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan televisi publik Swiss (SRF) pada 20 Oktober 2016, Presiden Suriah saat itu, Bashar Al Assad, secara tegas menolak tuduhan dirinya sebagai penjahat perang.
Baca Juga: Pasca Bashar Al Assad Tumbang, Israel Penjajah Masuk 38 Kilometer ke Suriah
Wawancara ini, yang kini kembali mencuat setelah sembilan tahun berlalu, menjadi cermin bagaimana Assad membangun narasi geopolitik untuk mempertahankan kekuasaannya.
Ketika ditanya apakah ia berbohong jika dunia menyebutnya penjahat perang, Assad menjawab dengan membalik tuduhan tersebut.
"Itu tergantung siapa yang mendefinisikan. Apakah menurut hukum internasional, atau menurut agenda politik Barat? Jika kita bicara hukum internasional, maka yang pertama harus diadili adalah para pejabat Barat yang menginvasi Irak dan Libya tanpa mandat Dewan Keamanan," kata Assad.
Assad menegaskan dirinya bukan agresor, melainkan mempertahankan negara dari 'aktor teroris yang disponsori kekuatan asing'.
Ia menyebut perang Suriah sebagai perang proksi global, bukan konflik domestik.
Baca Juga: Penyerahan Bashar Al Assad Bayangi Hubungan Suriah dan Rusia
"Sebagai pemerintah dan sebagai Tentara Suriah, kami membela negara kami dari teroris yang telah menginvasi Suriah sebagai proksi negara lain," terangnya.
Ketika Menteri Luar Negeri AS saat itu, John Kerry, menyamakan dirinya dengan Adolf Hitler dan Saddam Hussein, Assad menanggapinya dingin.
"Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Barat tidak punya kredibilitas. Yang penting adalah bagaimana rakyat Suriah memandang saya, dan bagaimana sekutu kami melihat fakta di lapangan," ungkapnya.
Artikel Terkait
Pasca Bashar Al Assad Tumbang, Israel Penjajah Masuk 38 Kilometer ke Suriah
Mendagri dan Delegasi Syiah Suriah Bahas Cara-cara Peningkatan Keamanan dan Stabilitas
Hanya 63 Detik, Ini Isi Pidato Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa di KTT Doha
Damaskus dan Washington Dibuka Lagi, Menlu Suriah Assad Al Shaibani Akhiri 25 Tahun Vakum Diplomasi
Ahmad Al Sharaa Sebut Pemutusan Hubungan Suriah dan Iran Tidak Permanen, Ini Tanggapan Teheran