Peran tersebut kemudian menjadi sentral dalam mengamankan kerjasama antar UMKM, yang dibina oleh pemerintah dalam bentuk koperasi.
OMSP mempertahankan dan mengamankan secara cerdas (smart approach) kebijakan negara dalam sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta di tataran operasional, melalui usaha, pekerjaan dan kegiatan pemberdayaan terhadap mass-media dan media-sosial pada umumnya serta para netizen nasional berpengaruh (influencers) yang berjiwa patriotik, melalui kegiatan kontra-propaganda terhadap hoaks dan simulakra dari berbagai NGO asing yang menyusup pada LSM-LSM domestik.
Hoaks adalah berita-berita tentang suatu kejadian yang mereka publikasikan secara keliru, sedangkan simulakra adalah publikasi berita-berita yang mereka ada-adakan tentang suatu kejadian yang tidak pernah terjadi sama sekali.
Oleh karena itu tantangan yang dihadapi oleh HANKAMNAS di era 5.0 ini adalah konsolidasi kekuatan di medan perang siber, untuk mengatasi berbagai hambatan, gangguan dan ancaman.
Strategi dalam Ketahanan Energi
Baca Juga: Mesin Sepeda Motor Susah Dinyalakan, Simak Tips dan Ketahui Penyebabnya
Strategi HANKAMNAS dalam konteks ketahanan energi ditujukan untuk menjawab tantangan dari propaganda melalui hoaks, yang menyesatkan opini umum terhadap penerapan ekonomi Pancasila.
Kerapkali terselenggara acara-acara seminar dan diskusi ilmiah, yang kerap digerakkan di belakang layar oleh NGO yang tidak terdaftar di Kemlu RI yaitu Mighty Earth dengan CEO, Chairman dan politisi, yang menjadi penasihat Presiden Joe Biden di Gedung Putih dan para mantan Duta Besar AS di Indonesia.
Serangan-serangan mereka ditujukan untuk menggagalkan proyek nasional PLTA yang ramah lingkungan di Batang Toru kabupaten Tapanuli Selatan, yang dapat memproduksi 4x127,5 MW dan mengurangi emisi karbon dunia 16 juta ton per tahun.
PLTA tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2026, untuk melayani kebutuhan listrik rakyat di seluruh pulau Sumatera, mendukung kemajuan UMKM-UMKM setempat dan melestarikan ekosistem yang dapat memacu ekonomi Pancasila sesuai dengan perkembangan masyarakat industri dunia 5.0.
Baca Juga: Asyik, Presiden Jokowi akan Umumkan tentang Kebijakan THR
Hoaks yang mereka viralkan pada mulanya di tahun 2017 adalah isu fragmentasi, yaitu proyek membelah hutan. Kampanye mereka gagal karena publik mengetahui, bahwa yang membelah hutan adalah sungai dan jalan Trans Sumatra.
Hoaks mereka kemudian berganti dengan simulakra yaitu berita yang tanpa pernah ada kejadiannya sama sekali, tentang musnahnya ikan Jurung akibat tidak dapat berkembang biak.
Kampanye tersebut juga gagal karena masyarakat setempat membuktikan, bahwa mereka justru sukses besar dalam UMKM pembudi daya ikan Jurung. Pada tahun 2018 mereka mengusung isu kemusnahan orangutan yang juga terdengar aneh bagi masyarakat, karena orangutan Tapanuli yang tersebar di seluruh Sumatera Utara berada dalam ekosistem Batang Toru seluas 150.000 hektar dengan 85% wilayah persebaran tersebut berstatus hutan lindung, sehingga dari 15 persen, yaitu 22.500 hektar yang merupakan areal hutan untuk penggunaan lain hanya 122 hektar yang digunakan untuk PLTA Batang Toru.