Menurut catatan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, Guru Besar Ilmu Kelautan IPB Bogor (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan) wilayah pesisir dan laut Indonesia mengandung potensi ekonomi berupa sumberdaya alam (SDA) terbarukan, SDA tidak terbarukan, dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang luar biasa besar.
Baca Juga: Renovasi JIS untuk Piala Dunia U-17 Mengundang Pro Kontra Serta Penuh Motif Politik
Potensi ekonominya mencapai 1,4 trilyun dolar AS (Rp 1500 triliun) pertahun, dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi sedikitnya 45 juta orang (30% total angkatan kerja).
Blue economy yang potensi nilai ekonominya 1,4 trilyun dolar AS pertahun itu, lanjut Rokhmin Dahuri, dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekitar 7 persen pertahun.
Kemudian banyak menyerap tenaga kerja, mengurangi ketimpangan ekonomi, mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah, dan memperkuat kedaulatan pangan, energi, farmasi, dan mineral.
“Secara geoekonomi dan geopolitik, letak Indonesia sangat strategis, dimana sekitar 45% total barang yang diperdagangkan di dunia dengan nilai ekonomi rata-rata 15 trilyun dolar AS pertahun dikapalkan melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2016),” jelas Rokhmin.
Baca Juga: Jurus Mahfud MD Selesaikan Polemik Pondok Pesantren Al Zaytun
Selat Malaka, sambungnya, sebagai bagian dari ALKI-1 (Alur Laut Kepulauan Indonesia-1) merupakan jalur transportasi laut terpendek yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik.
Ia menghubungkan raksasa-raksasa ekonomi dunia, termasuk India, Timur-Tengah, Eropa, dan Afrika di belahan Barat dengan China, Korea Selatan, dan Jepang di belahan Timur.
ALKI-1 melayani pengangkutan sekitar 80% total minyak mentah yang memasok Kawasan Asia Timur dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika.
Jumlah kapal yang melintasi ALKI-1 mencapai 100.000 kapal/tahun. Sementara, Terusan Suez dan Terusan Panama masing-masing hanya dilewati oleh 18.800 dan 10.000 kapal per tahun (Calamur, 2017).
Baca Juga: Komentar Cesc Fabregas Memilih Jadi Pelatih di Klub Bola Milik Konglomerat Asal Indonesia
Pendapatan Otoritas Terusan Suez mencapai rata-rata Rp 220 milyar/hari atau Rp 80,7 trilyun/tahun.
“Malangnya, sampai sekarang, Indonesia belum menikmati keuntungan ekonomi secuil pun dari fungsi laut NKRI sebagai jalur transportasi utama global tersebut,” ujar Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu.
Selain itu, perairan laut Indonesia merupakan habitat ikan tuna terbesar di dunia (the world tuna belt), memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi, dan potensi produksi lestari (MSY = Maximum Sustainable Yield) ikan laut terbesar di dunia, sekitar 12 juta ton/tahun (13,3% total MSY ikan laut dunia) (Dahuri, 2004; KKP, 2021; dan FAO, 2022).