nasional

Opini: Perlu Segera Dibentuk TNI-Intel, di Samping TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU

Minggu, 14 Mei 2023 | 22:41 WIB
Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono menekankan pentingnya TNI yang membidangi intelijen selain tiga matra yang ada. (Instagram.com/@puspentni)

SENAYAN POST - Untuk mencapai suatu perubahan yang baik ataupun yang buruk, perang fisik militer selalu terjadi dalam bentuk yang berbeda-beda dari generasi ke generasi.

Perang di dunia ini cenderung diwarnai oleh perseteruan abadi antara dua kutub negara adidaya Barat Amerika Serikat (AS) dengan Timur (Rusia dan China).

Generasi perang yang berlomba dalam jumlah tentara, kecanggihan senjata, mesin perang, daya jelajah balistik dan unsur kecepatan, secara overlapping dan berangsur-angsur mengalami perubahan dalam sasaran dan spektrum perang.

Baca Juga: Lebih dari 10 Tahun, Pengisi Suara Eren Yeager Selalu Kenakan Barang Rahasia Ini Jika Syuting Attack on Titan

Senjata pemusnah massal berupa bom atom yang menggunakan fisi nuklir, bom nuklir yang lebih dahsyat karena menggunakan fisi sekaligus fusi nuklir dan bom hidrogen atau termonuklir yang lebih dahsyat lagi karena berdetonasi lebih banyak, kini cenderung tergeser oleh senjata penghancur dalam spektrum semesta, berupa bom informasi yang penuh dengan kebohongan publik.

Kedua belah belligerents dalam perang generasi ke 5 yang berkecerdasan buatan di zaman dunia yang serba internet ini, tengah berusaha melibatkan sebanyak mungkin negara bangsa untuk berada pada pihak yang memusuhi musuhnya.

Sasaran penghancuran yang dahulu ke tubuh fisik sebanyak mungkin manusia, kini berubah menjadi perusakan langsung yang sedalam mungkin ke pemikiran otak manusia.

Baca Juga: One Piece Live Action Tayang Masih Lama, Begini Bocoran Penampakan Marinir di Grand Line

Informasi yang kini mereka jadikan senjata adalah hoaks, yaitu berita keliru tentang peristiwa yang terjadi dan simulakra, yaitu berita tentang peristiwa yang tidak pernah terjadi tetapi disiarkan seolah-olah terjadi.

Hoaks dan simulakra menyerbu dunia dengan frekuensi dan intensitas tinggi, sehingga otak orang tidak mampu lagi untuk membedakan informasi mana yang benar dan mana yang salah, mana pihak musuh dan mana pihak kita sendiri.

Adagium perang Sun Tzu yang menyatakan bahwa mengetahui diri sendiri dan mengetahui musuh, jika 1000 kali perang akan 1000 kali menang, seolah-olah tidak berlaku lagi.

Baca Juga: Link Nonton Doctor Cha Episode 10 Sub Indo: Suaminya Berpaling, Cha Jeong Suk Ingatkan Choi Seung Hee

Kita dengan kita dan musuh dengan musuh saling tidak mengetahui, sehingga saling hancur menghancurkan dirinya sendiri.

Kecemasan sosial yang akut yang melanda bangsa sasarannya merupakan tujuan, untuk dijadikan medan perang psikologi dalam kampanye lanjutan perang fisik militer.

Halaman:

Tags

Terkini