nasional

Idrus Marham Sentil PBNU: Terlalu Kaku pada Struktur, Abaikan Potensi Luar

Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:42 WIB
Peluncuran buku Nahdlatul Ulama dan Tantangan Peradaban karya Idrus Marham. (Senayan Post)

SENAYANPOST – Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), penulis buku “Nahdlatul Ulama dan Tantangan Peradaban”, Idrus Marham, menyoroti pendekatan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dinilainya terlalu kaku dan semata-mata bertumpu pada pendekatan struktural.

Kritik tajam tersebut dilontarkan Idrus dalam acara peluncuran dan bedah bukunya di Hotel Novotel, Jakarta, Senin (24/8/26) malam. Menurut Idrus, kecenderungan struktural ini menciptakan garis pemisah yang tajam antara tokoh yang berada di dalam dan di luar struktur formal organisasi.

“Kita melihat pendekatan yang dilakukan itu lebih pada struktural. Sehingga NU ini terbagi dua area, yang struktural kepengurusan dan (yang berada) di luar,” ujar Idrus.

Kondisi tersebut dinilainya merugikan organisasi karena banyak kader NU berprestasi di luar struktur kepengurusan yang seolah kehilangan ruang untuk memberikan pandangan atau berkontribusi langsung. Idrus memberikan contoh ekstrem terkait Gubernur Lemhannas, Dr. Ace Hasan Syadzily, yang merupakan kader tulen NU namun tidak dilibatkan dalam sumbangsih pemikiran strategis.

Baca Juga: Dari Adopsi ke Inovasi: Al-Ījād dan Transformasi Peradaban Nahdlatul Ulama

“Makanya meskipun yang namanya Dr. Ace adalah Gubernur Lemhannas, orang NU, itu enggak dimintain apa-apa pandangannya. Karena penentu NU itu yang ada di dalam, yang di luar enggak ada apa-apa, dia hanya sekadar penonton,” tegasnya mengkritik.

Lebih lanjut, Idrus mewanti-wanti bahaya laten dari pendekatan struktural ini. Ia mengingatkan bahwa ketika peran hanya didasarkan atas posisi dalam struktur kepengurusan tanpa diimbangi kualitas personal, maka potensi penyalahgunaan wewenang akan semakin tinggi.

“Biasanya orang-orang yang berperan berdasarkan struktur, kalau sudah tidak mampu, cenderung menggunakan kekuasaannya sebagai alat. Itu yang terjadi,” sentil Idrus.

Mendorong Kolaborasi Fungsional-Struktural

Idrus mendesak agar PBNU mengubah paradigma ini. Ia mengusulkan format ideal di mana kepengurusan struktural mampu menggabungkan diri dan berkolaborasi erat dengan peran fungsional tokoh-tokoh NU kompeten di luar struktur.

Baca Juga: Jelang Muktamar, Idrus Marham Dorong Pembaruan Sistem Kepemimpinan PBNU

Pemikiran tersebut diamini oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Rais Syuriyah PBNU, Dr. KH. M. Cholil Nafis, yang turut hadir dalam acara tersebut.

Cholil sepakat dengan gagasan Idrus yang tidak berfokus pada figur struktural semata, melainkan pada pembangunan sistem yang mengakomodasi kompetensi secara luas demi membangun peradaban berbasis intelektualitas dan moral.

“Saya termasuk yang mengagumi Bang Idrus, memikirkan kiprah itu tidak hanya berfokus kepada soal figur, tetapi pijakan dan sistem yang baik. NU harus menjadi tempat kita semua, distributor kader-kader, dan NU harus menjadi milik semua,” pungkas Cholil.*

Tags

Terkini