nasional

MATAKIN Anugrahi Nama 'Li Zhengyi' Prof Jimly Asshiddiqie Serukan Indonesia Jadi Teladan perdamaian Dunia

Sabtu, 18 April 2026 | 09:50 WIB

SENAYANPOST - Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia (MATAKIN) pada Jum'at 17 April 2026 menggelar tasyakuran ulang tahun Mantan Ketua Mankamah Konstitusi Republik Indonesia Prof Jimly Asshiddiqie ke-70 tahun sekaligus Wakil Ketua MATAKIN  Haris Chandra yang ke-73 tahun.

Menariknya, pada tasyakuran kali ini, MATAKIN menganugrahi Prof Jimly Asshidiqie dengan nama Bahasa Mandarin yaitu Li Zhengyi.

Ketua MATAKIN Budi Santoso Tanuwibowo menjelaskan bahwa kata Li berasal dari kata 'Jimly' kata pertama dari nama Prof Jimly Asshiddiqie.

"MATAKIN mengekuarjan sertifikat nama Bahasa Mandarin yang pertama kali, yaitu Zhengyi yang berarti lurus, jujur dan berani. Sesuai nama bekalang Prof Jimly," jelasnya.

Pengusaha asal Tegal ini menjelaskan peran Prof Jimly Asshiddiqie dan perjuangan MATAKIN agar Agama Konghuchu mendapatkan pengakuan resmi dari Pemerintah Indonesia.

"Beliau ini orang yang welas asih kepada orang yang tertindas. Perjuangan MATAKIN yang saat itu kesulitan, akhirnya mendapatkan landasan hukum. Mahkamah Konstitusi menjawab, dan jawaban itu kemudian memperkuat perjuangan Umat Konghuchu," kisahnya.

Prof Jimly Asshiddiqie kemudian menceritakan kisah perjuangan MATAKIN hingga Agama Konghuchu benar-benar diakui dan Perayaan Imlek diakui sebagai Hari Raya Agama Konghuchu di Indonesia, walaupun di Republik Rakyat Tiongkok diakui sebagai perayaan kebudayaan, sebagai dampak dari Revolusi Budaya yang digencarkan Partai Komunis Tiongkok di era Mao Zedong.

"Negara tidak harus mengakui tapi diakui pemeluknya. Imlek itu adalahn peristiwa keagamaan bukan kebidayaan dan etnis. Karena sejarahnya memang seperti itu. Bahwa di RRT tidak mengakui sebagai perayaan agama adalah urusan mereka karena komunis," tegasnya.

Ketua Mahkamah Konstitusi 2003 - 2008 ini kemudian mengajak di tengah kegalauan kemanusiaan global, memperkuat kebiasaan saling menghormati, menghargai dan saling memberi manfaat. Karena Jika satu peradaban merasa kuat sendiri akan melakukan kekerasan dan tidak akan mewujudkanan perdamaian. 

"Tidak ada bangsa selain Indonesia memberikan salam dengan banyak agama. Tidak apa saling menyapa berisi doa untuk perdamaian," pungkasnya.

Tags

Terkini