nasional

Kisah Pilu Ali: Bertahan di Tengah Banjir Tamiang hingga Kehilangan Orang Tua

Selasa, 13 Januari 2026 | 14:44 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang saat banjir mulai masuk ke area pemukiman pada akhir November 2025. (Instagram/chefharipurwanto)

SENAYANPOST - Bencana banjir di 3 provinsi di Sumatera yang terjadi pada akhir November 2025 lalu meninggalkan duka mendalam bagi warga wilayah terdampak. Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor itu datang tiba-tiba dan meluluhlantakkan jalur yang dilewatinya, termasuk pemukiman warga.

Lebih dari seribu orang pun meninggal dunia karena bencana yang datang tiba-tiba itu. Meski sudah lebih dari sebulan pascabanjir, momen detik-detik air dengan arus deras menenggelamkan rumah masih terekam di ingatan warga.

Salah satunya Ali, salah satu anak dari Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Ali menceritakan bahwa mereka tak tahu banjir yang terjadi pada akhir November 2025 akan menjadi bencana besar hingga lebih dari sebulan pun masih membutuhkan penanganan darurat.

“Kami nggak tahu kalau akan banjir sebesar ini. Jadi, kami nggak ada persiapan,” ujar Ali, dikutip dari video unggahan chef Hari Purwanto di Instagramnya, @chefharipurwanto, pada Selasa, (13/1/26).

Baca Juga: Panduan SNPMB 2026: Syarat Siswa Eligible Jalur Prestasi dan Jadwal Registrasi Akun

Masih mengira banjir pertama akan cepat suru, ia dan warga lainnya saat itu masih bersantai dan tidak melakukan persiapan menghadapi kemungkinan bencana lebih besar lainnya.

“Kami masih bersantai, lihat-lihat banjir, masih main-main air sungai, masih selow seperti banjir biasa. Banjir biasa kan nggak seperti ini,” lanjutnya.

Siapa menyangka jika di sore hari, wilayah banjir makin luas hingga mencapai jalan raya kampungnya.

“Rupanya, malamnya air sudah di depan rumah, Di situlah kami mulai gaduh, kami nggak bisa tidur. Rumah-rumah tetangga kami depan rumah sudah hancur, bahkan lewat depan mata kami. Itu yang buat kami sedih,” terangnya.

Baca Juga: Influencer Virdian Aurellio Ingatkan Bencana di Tanah Sumatera Bukan Sekadar Musibah: Konsekuensi dari Ulah Manusia

Ungkap Cerita Saudara Melahirkan saat Air Makin Naik

Saat malam hari, menurut Ali, air makin mendekati pemukiman dan bersama keluarganya, sudah bersiap untuk pergi.

“Mau pergi ke atas dulu, di atas bukit. Rupanya paginya, air naik lagi sampai situ. Pindah lagi,” tambahnya.

Saat momen genting untuk mencari tempat aman, Ali menceritakan tetangga sekaligus salah satu keluarganya harus melahirkan.

Halaman:

Tags

Terkini