Kebijakan Trump terkait tarif resiprokal tersebut membuat para pebisnis AS gerah, termasuk Musk.
"Prokal China yang menerapkan tarif 125 persen dan pembatalan impor sebesar 640 miliar dolar AS membuat para kapitalis AS berang," ungkapnya.
"Mereka ingin segera menghentikan Trump yang sedang menggali lubang kuburnya sendiri," tambahnya.
Hendropriyono juga mengungkapkan kondisi China saat ini setelah Trump mengumumkan perang tarif.
"Di lain pihak, dalam sepinya kehidupan pasar di Shanghai, Hongkong, dan tempat-tempat lain, Presiden Xi Jinping terus-menerus mengingatkan masyarakatnya bahwa perang akan dimenangkan oleh mereka yang paling tahan menderita," jelasnya.
"Bangsa China katanya adalah samudera yang tenang yang memang kerap dilanda badai, yang pasti akan berlalu," terangnya.
Ia juga menerangkan bagaimana media massa China menggambarkan negara tersebut sebelum akhirnya menguasai hampir seluruh pasar dunia.
"Sementara itu media massa dan tv-tv nasional dan lokal sibuk menayangkan berbagai cerita tentang kehidupan rakyat China zaman dulu yang miskin dan penuh keprihatinan yang membuat China sekarang menjadi sangat perkasa di dunia," jelasnya.
"Untuk itu Xi Jinping membakar semangat rakyatnya bahwa China siap untuk perang apa pun terhadap siapa pun yang akan menyerang China," pungkasnya.***