Ekonom INDEF Ibaratkan Ekonomi RI bak Sepak Bola: Waktunya Ganti Strategi!

photo author
Hanggi Martyas Laksono, Senayan Post
- Kamis, 11 Juni 2026 | 12:08 WIB
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB) sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto (Dok. Promedia)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB) sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto (Dok. Promedia)

Lebih lanjut, ia memaparkan salah satu anomali struktural yang nyata terjadi pada sektor industri nasional. Meskipun proses industrialisasi tampak berkembang, kenyataan di lapangan menunjukkan struktur penopangnya masih sangat rapuh dan bergantung pada pasokan luar negeri.

"Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu, biaya produksi nasional ikut melonjak dan daya saing industri domestik tertekan," kata dosen FEB UMB ini.

Kerapuhan struktural ini, lanjut Agus, juga menjalar kuat ke sektor pembiayaan pembangunan nasional.

Indonesia dinilai terlalu lama mengandalkan arus modal asing guna menutup kebutuhan investasi domestik, termasuk dalam menyiasati defisit transaksi berjalan yang berulang kali terjadi melalui instrumen modal portofolio jangka pendek (hot money).

"Dalam kondisi normal, strategi ini memang mampu menyediakan likuiditas dan pembiayaan yang dibutuhkan perekonomian. Namun ketika terjadi gejolak global, modal yang masuk dengan cepat dapat pula keluar dengan cepat," paparnya memperingatkan.

Ia meminta pengambil kebijakan mengambil pelajaran berharga dari sejarah kelam masa lalu, khususnya saat badai krisis finansial menerjang kawasan Asia akhir abad lalu.

"Pengalaman krisis Asia tahun 1997–1998 maupun berbagai episode gejolak pasar keuangan global menunjukkan bahwa fondasi ekonomi yang terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor internasional. Ketika kepercayaan pasar menurun, nilai tukar tertekan, pasar keuangan bergejolak, dan ruang kebijakan pemerintah menjadi semakin sempit," tambahnya.

Agus menyoroti langkah Indonesia yang cenderung membuka diri terhadap arus globalisasi ekonomi tanpa terlebih dahulu membentengi diri dengan pilar-pilar domestik yang memadai.

Akibatnya, alih-alih meraup keuntungan optimal dari keterbukaan tersebut, kapasitas produksi nasional justru kerap tertinggal.

"Integrasi perdagangan dan keuangan global memang membawa banyak manfaat, tetapi manfaat tersebut tidak selalu terdistribusi secara merata apabila kapasitas produksi nasional, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi belum cukup kuat. Akibatnya, Indonesia menjadi peserta dalam arus globalisasi, tetapi belum sepenuhnya menjadi pengendali arah perjalanannya," cetus Agus.

Oleh karena itu, ia melihat agenda kemandirian yang saat ini mulai didorong oleh pemerintah sebagai sebuah tindakan koreksi strategis yang sangat tepat untuk menyelesaikan persoalan struktural menahun.

"Dalam konteks itulah agenda kemandirian yang saat ini mulai didorong pemerintah dapat dipahami bukan semata-mata sebagai pilihan ideologis, melainkan juga sebagai koreksi strategis terhadap sejumlah kelemahan struktural yang selama ini belum terselesaikan. Kemandirian pangan, energi, dan teknologi pada dasarnya merupakan upaya memperkuat fondasi ekonomi agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal yang berada di luar kendali nasional," tuturnya.

Agus memberikan catatan penting agar tidak terjadi salah kaprah dalam menerjemahkan konsep kemandirian ekonomi.

Menurutnya, konsep mandiri sama sekali tidak merujuk pada praktik proteksionisme ekstrem atau isolasi diri dari pergaulan internasional.

"Kemandirian bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional atau menolak investasi asing. Sebaliknya, kemandirian berarti membangun kemampuan domestik yang cukup kuat sehingga hubungan dengan dunia internasional berlangsung dalam posisi yang lebih setara. Negara tetap terbuka terhadap perdagangan, investasi, dan kerja sama global, tetapi tidak lagi berada dalam posisi ketergantungan yang berlebihan," urai Agus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi Martyas Laksono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X