Karena kendala anggaran yang signifikan, biaya operasional yang tinggi, dan ketergantungan historis pada kapal-kapal tua, Indonesia hanya memiliki empat kapal selam aktif kelas Nagapasa dan Cakra.
Negara ini secara aktif berupaya meningkatkan jumlah ini melalui kemitraan strategis dan produksi lokal untuk meningkatkan keamanan maritim.
Febry Triantama, seorang asisten profesor hubungan internasional di Universitas Paramadina, mengatakan setidaknya dibutuhkan 12 kapal selam, di samping peningkatan sistem operasional bawah laut Indonesia.
"Indonesia juga perlu meningkatkan kemampuan perang anti-kapal selam di dalam TNI," katanya, merujuk pada Tentara Nasional Indonesia.
Baca Juga: Presiden Prabowo Jadi Tamu Hari Kemenangan Tiongkok, Bersanding dengan Xi Jinping hingga Putin
Kemampuan perang anti-kapal selam mengacu pada sistem, teknologi, dan strategi terintegrasi yang digunakan untuk mendeteksi, melacak, dan menetralisir ancaman bawah laut.
Dengan melakukan perjalanan di bawah air, UUV (Unmanned Aerial Vehicle) mampu mengumpulkan data oseanografi seperti suhu air laut, salinitas, dan kadar oksigen.
Perangkat ini dapat membantu memahami lingkungan bawah laut untuk mendukung operasi kapal selam di masa depan, dan sangat diminati oleh angkatan laut di seluruh dunia.
'Isu Sensitif'
Abdul Rahman Yaacob, seorang peneliti di Rabdan Security and Defence Institute di Uni Emirat Arab, mengatakan pemerintah Indonesia memilih untuk tetap diam, seperti yang dilakukannya pada tahun 2020.
Selain ingin menjaga hubungan ekonomi yang stabil dengan China, Rahman mengatakan Jakarta lebih memilih untuk menangani 'isu-isu sensitif melalui diplomasi senyap'.
Baca Juga: Prabowo Subianto : Indonesia dan Tiongkok Bersama Ciptakan Kawasan Damai dan Aman
"Pendekatan ini juga konsisten dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang telah lama ada untuk menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan besar," tambahnya.
Pada Desember 2020, seorang nelayan menemukan drone bawah air berbentuk torpedo yang diduga buatan Tiongkok di dekat Pulau Selayar di Sulawesi Selatan.
Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan investor asing terbesar kedua setelah Singapura, dengan perdagangan bilateral mencapai 167,49 miliar dolar AS (sekitar Rp2.870 triliun) pada tahun 2025, menurut data dari Beijing.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Subianto Ucapkan Pepatah dalam Bahasa Tiongkok di Beijing: Seribu Kawan Telalu Sedikit
Prabowo Subianto : Indonesia dan Tiongkok Bersama Ciptakan Kawasan Damai dan Aman
Presiden Prabowo Jadi Tamu Hari Kemenangan Tiongkok, Bersanding dengan Xi Jinping hingga Putin
BYD Resmikan Di-Space: Museum Sains Kendaraan Listrik Pertama di Tiongkok
Konflik AS dan Iran Memanas, Rizal Mallarangeng: Rusia dan Tiongkok Tak Akan Turun Tangan Militer