SENAYANPOST - Sudah hampir pertengahan Ramadan, tapi masih banyak penyintas banjir dan tanah longsor di Aceh Utara yang tinggal di tenda pengungsian.
Kondisi tersebut makin memprihatinkan ketika para warga harus berpuasa di dalam tenda karena rumahnya yang rusak akibat dari bencana yang menerjang pada akhir November 2025 lalu.
Pasalnya, keadaan di dalam tenda akan terasa lebih panas saat siang hari dan dingin ketika malam datang.
Sementara pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap masih dalam proses.
Baca Juga: Influencer Vilmei Ceritakan Kondisi Aceh usai Bencana, dari Sekolah Darurat hingga Hunian Sementara
Tantangan lain yang dihadapi warga, selama tinggal di tenda adalah saat hujan turun.
Seperti dalam video yang diunggah oleh akun relawan sekaligus influencer Aceh, @rully_xabian.
Terlihat warga yang tinggal di dalam tenda di Dusun Lhok Pungki Kecamatan Sawang, Aceh Utara sedang sibuk menyelamatkan lagi barang-barang dan melipat terpal agar tak makin basah.
“Bagi kita, hujan mungkin rahmat tapi bagi mereka yang tinggal di bawah tenda pengungsi adalah bencana,” tulis keterangan pada akun tersebut.
“12 Ramadan, kondisi pengungsi di Lhok Pungki. Saat siang mereka kepanasan, saat hujan mereka tidak bisa tidur “ imbuhnya.
Dalam video juga terlihat air menggenang di bawah terpal, membuat mereka tak mungkin untuk tidur.
“Inilah suasana di saat hujan di pengungsian,” lanjutnya.
Adapun mengenai huntara yang dijanjikan, belum semua warga yang bisa mendapatkan dan menempatinya.
“Rumah huntara tahap pertama hanya 40 unit dan belum selesai. Sisanya, warga masih belum punya huntara,” tuturtnya.
Artikel Terkait
Relokasi Korban Terdampak Longsor Cilacap, Pemda Siapkan Lahan 3,5 Hektare untuk Huntara
Update Bencana Agam Sumatera Barat: 192 Tewas, 72 Hilang, BNPB Bangun Huntara dan Kerahkan Alat Berat
Huntara Sumbar Dikebut: Padang Pariaman Hampir Rampung, TNI-Polri Turun Tangan
Baru Sepekan Diresmikan, Kawasan Huntara di Palembayan Agam Terendam Banjir Luapan Air Hujan
Influencer Vilmei Ceritakan Kondisi Aceh usai Bencana, dari Sekolah Darurat hingga Hunian Sementara