Petani Manggarai Kewalahan Penuhi Permintaan Dapur MBG, 3.000 Pohon Buncis Ludes Terjual

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Minggu, 22 Februari 2026 | 09:11 WIB
Petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong. (Dok. Promedia)
Petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong. (Dok. Promedia)

SENAYANPOST — Ada pengalaman berbeda yang dirasakan petani di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Belum pernah sebelumnya mereka merasa kewalahan memenuhi permintaan pasar yang begitu besar.

Permintaan itu tidak lain datang dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Saking tingginya permintaan, petani sampai tidak bisa memenuhinya.

“Permintaannya banyak, petani tidak memenuhi,” ujar Gili Jenadi, petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Sabtu (21/2/26). Dia bersyukur tanamannya bisa terserap dengan baik.

Agar bisa memenuhi permintaan, Gili mencoba untuk menanam berbagai jenis tanaman di lahan miliknya. Pertama, dia menanam buncis sesuai permintaan SPPG, dan itu langsung diborong habis.

Baca Juga: Putus Rantai Tengkulak, SPPG Manggarai Beli Langsung Hasil Panen Petani dengan Harga Kompetitif

Gilli juga menanam tomat dan cabai keriting. Untuk jangka panjang, Gili juga menyiapkan tanaman brokoli untuk kebutuhan tahunan.

“Tahun 2025 kemarin, saya punya bancis kurang lebih 3 ribu pohon. Terlaku habis untuk program MBG,” katanya.

Dari pengalaman itu, Gili berani untuk menanam berbagai jenis tanaman hortikultura. Apalagi permintaannya tinggi berkat program MBG.

“Berani menanam wortel, sebelumnya saya tidak berani. Kebutuhan wortel sangat tinggi sekali untuk MBG,” jelasnya.

Baca Juga: Investor Global Puji Komitmen Prabowo Perkuat Sistem Hukum sebagai Fondasi Utama Investasi

Gili berharap program MBG bisa terus berjalan. Selain meningkatkan gizi penerima manfaat, terutama siswa sekolah, MBG ini juga berkah tersendiri bagi para petani.

Pengalaman serupa juga datang dari Mikael Jehudu, Ketua Kelompok Tani Harapan Baru Kelurahan Wali. Dia berani menanam berbagai jenis tanaman agar bisa terserap dapur MBG.

Tanaman yang menjadi andalannya adalah daun bawang, terung, dan mentimun. Khusus mentimun, dia punya pengalaman menarik.

Mikael bercerita, sebelum ada MBG, mentimun jenis baru yang dia tanam hanya dihargai Rp 1.000 per kilogram, paling baik Rp 1.500 per kilogram.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X