Sebut Kyai Zulfa Jembatan Islah Konstitusional, Aktivis Muda NU Singgung Kebangkitan Ilmuwan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 10 Desember 2025 | 12:33 WIB
Zulfa Mustofa (NU Online)
Zulfa Mustofa (NU Online)

1. Konsolidasi internal.
Menyatukan faksi yang selama ini saling berhadap-hadapan, membangun komunikasi, dan mengembalikan rasa percaya di tubuh PBNU.


2. Memperkuat kinerja wilayah dan cabang.
Tugas teknis namun krusial: memastikan disiplin organisasi, penguatan administrasi, dan percepatan realisasi program.


3. Menyiapkan Konferensi Besar dan Muktamar 2026.
Ini menjadi ujian paling berat—apakah fase pemulihan benar-benar bekerja atau justru kembali tersandung konflik baru.


4. Memimpin persiapan peringatan 100 Tahun NU.
Momen seabad yang disorot publik sebagai “etalase kedewasaan NU”. Organisasi harus tampil stabil dan bermarwah.

 

Rikal menyebut empat agenda ini sebagai “penentu hidup-matinya reputasi organisasi”. Menurutnya, NU tidak boleh terjebak dalam bayang-bayang konflik elite, sementara generasi muda menunggu arah yang lebih besar: arah ilmiah, rasional, dan berbasis merit.


Ulama Tak Lagi Tunggal: NU Harus Menjadi Rumah Ilmu

Rikal menyoroti pentingnya perubahan cara pandang tentang ulama. Ia menyebut bahwa ulama di era modern bukan hanya mereka yang berasal dari jalur pesantren, tetapi juga ilmuwan, saintis, ekonom, sosiolog, dan teknolog.

“Ulama itu banyak jalurnya. Ada ulama agama, ulama sains, ulama sosial. NU harus menjadi rumah besar bagi semua jalur itu. Kita sedang menyongsong kebangkitan ilmuwan NU,” ujarnya.

Pandangan ini sekaligus menyentil cara lama yang menempatkan NU hanya sebagai pusat ritual, sementara potensi akademik dan ilmiah belum benar-benar diarusutamakan.


Muktamar Jadi Gerbang Legitimasi

Dengan semakin kuatnya dukungan moral dari para Mustasyar hingga lingkaran Kyai Ma’ruf Amin, arah penyelesaian konflik PBNU kini mengerucut pada satu titik: Muktamar sebagai ruang legitimasi tertinggi.

Rikal menilai NU harus memanfaatkan masa transisi ini untuk memperkuat tata kelola, menyiapkan pemimpin yang kompeten, serta menjamin bahwa proses organisasi berjalan tanpa intervensi politik praktis.

Jika berhasil, NU bukan hanya pulih, tetapi bangkit sebagai kekuatan intelektual terbesar dunia Muslim.

“Kita tidak sedang menyambut sosok. Kita sedang menyambut masa depan. Ini momentum NU bangkit—secara intelektual, moral, dan organisatoris. Dan Muktamar adalah jembatan islah konstitusional itu,” tegas Rikal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X