Kemudian dari sisi penataan organsiasi, JI tertib, termunazhom (terorganisir). Adapun ISIS mereka terputus, bahkan tidak mengetahui di mana dan siapa qoid (pemimpin) mereka. Artinya, secara struktural, ISIS tidak terbangun rapi. Memincam istilah Al Qaeda, ISIS hanya mengecer fikrah (pemikiran). Al Qaeda dalam proses rekrutmen sangat panjang. Adapun ISIS mengobral pemikiran jihad, sehingga dampaknya besar sulit dikontrol, tidak bisa diarahkan, tidak punya hubungan struktural, karena tidka mengetahui siapa komandan siapa anak buah.
Adapun dalam JI, keterikatan spiritual antara anggota dan pemimpin, terbangun kuat. Ketika kami di JI dalam suatu halaqah (kajian) bertemu dengan seorang ustadz dan memandang wajahnya, membuat kami memiliki keterikatan hati, sehingga apa perkatan ustadz tersebut nita menuruti. Beda dengan ISIS yang hanya mengandalkan pembinaan lewat medsos, cuma sekedar baca tulisan narasi dan tidak ada ikatan ruhiyah (spiritual).
Seperti perkataan Ibnu Qayyim, tentang gururunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kami jika gelisah, ketika melihat wajah guru kami, kami menjadi teduh. Ketika anggota ISIS yang belajar melalui medsos, lihat wajah siapa ketika gelisah, ingin aksi tapi bingung siapa yang akan mengarahkan mereka, sehingga kemudian mereka menjadi liar. Kemudian karena tidak ada yang mengarahkan, sehingga dalam aksi-aksi teror mereka tidak terbidik sasarannya, wes pokok e nyerang (sudah pokoknya serang), sampai Polantas yang tidak mengerti apak-apa juga diserang. Sementara JI membidik sasaran sengan tepat, kemudian berskala global dan tidak takfiri.
Dapi pihak aparat keamanan, sudah bisa mengklasifikasi membedakan antara JI dan ISIS, dari sisi paparan materi, perencanaan serangan, target yang jelas tidak asal-asalan, dan I’dad (persiapan) juga terus dilakukan evaluasi.
Bagaimana penanganan membendung penyebaran narasi provokatif dari kelompok2 terorisme di masa sekarang khususnya medsos ?
Dengan masifnya narasi radikalisme di medsos, maka kita perlu melakukan perimbangan narasi. Dari para asatidz yang bermanhaj wasathiyah, perlu aktif, selain ceramah juga tulisan-tulisan, dapat menyeimbangkan pemikiran-pemikiran radikalisme. Kedua, pemerintah harus selektif dalam menilai, apakah suatu pemikiran ini radikal atau tidak. Contoh kasus, seperti Gaza Palestina, aspek kemanusiaan dan dukungan solidaritas semakin global dan massif, jangan digiring memiliki potensi radikalisme. Memang ada yang memanfaatkan, tapi jangan digeneralisir. Kemudian pembicaraan tentang khilafah. Narasi-narasi yang diindikasi sebagai bahan radikalisme seperti Jihad, Khilafah, Al Wala wal Bara, Daulah Islam, penerapan Syariat, jika dipaparkan secara ilmiah, yang memang disampaikan seperti Sirah Nabawiyah, jangan dijadikan sebagai bahan kecurigaan. Karena ada referensi ilmiahnya. Kadang, pola deradilaisasi yang ngawur pun, justru menimbulkan resistensi.
Apa yang harus dikalukan orang tua dan para guru dalam membentengi para siswa dari paham-paham terorisme ?
Untuk para guru dan orang tua, pertama mereka harus memahami terlabih dahulu apa itu konten-konten dan kategorisasi radikalisme. Kemudian hal-hal yang bisa membendung dan menfilter. Secara keilmuan perlu pemahaman yang sepadan, untuk menjawab bahasa-bahasa yang menjangkiti anak dan murid mereka. Termasuk juga memberikan konten-konten islami yang moderat, sebagai konten anterlatif. Kedua, selalu melakukan proses pendekatan kepada anak, terutama bagi orang tua perlu memperlihatkan kasih sayang, kenapa anak dan murid mereka menjadi radikal, karena pasti mereka di rumah tidak menemukan kasih sayang dari orang tua, sehingga lari ke dunia luar dan jatuh pada konten-konten radikal. Jadilah orang tua yang sholih dan sholihah, jangan pernah putus asa mendoakan anak dan murid agar dijaga oleh Allah SWT, sehingga menjadi generasi yang bermanfaat kepada umat dan negara.