JATMAN BUTUH NAHKODA BARU

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Minggu, 8 September 2024 | 19:59 WIB
Sejumlah kiai Thoriqoh dan pimpinan Jamiyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nahdliyah (Jatman) dari berbagai daerah menemui Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Senin (2/9/2024) siang (TVNU)
Sejumlah kiai Thoriqoh dan pimpinan Jamiyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nahdliyah (Jatman) dari berbagai daerah menemui Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Senin (2/9/2024) siang (TVNU)

 

K. Asnawi Ridwan

Mursyid Kholifah Tharekat al-Qodiriyah wan Naqsyabandiyah

Pengasuh Pondok Pesantren Fashihuddin Kota Depok

 

Seorang pemimpin bangsa atau pemimpin sebuah organisasi apabila dirinya memimpin terlalu lama maka masa mendatangnya akan menimbulkan tiga celah aib yang tidak baik bagi kelangsungan bangsa dan organisasi tersebut.

 

Satu, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab berpotensi besar akan dapat memanfaatkan posisi strategisnya untuk kepentingan pribadi. Dua, tidak munculnya program-program yang innovative yang dapat memenuhi kebutuhan umat yang terus berkembang. Tiga, terhambatnya regenerasi kepemimpinan.

 

Pada sisi yang lain, KH. Yahya Cholil Staquf  selaku ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama disingkat PBNU mempunyai komitmen untuk membentuk hirarki keorganisasian NU dari tingkat pusat hingga tingkat ranting sebagai bentuk government of Nahdlatul Ulama. Dengan demikian posisi JATMAN ( Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabaroh An Nahdliyah ) dihadapan PBNU, tata kelola JATMAN, dan lain sebagainya harus ditata dan dirapikan dengan baik oleh PBNU.

 

Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa point yang perlu disampaikan.  Pertama, JATMAN adalah salah satu banom milik PBNU. Ibarat anak, sudah seharusnya JATMAN berada pada posisi tegak lurus di bawah koordinasi dan arahan PBNU selaku orang tuanya. Oleh karena itu, segenap warga JATMAN harus siap tunduk patuh terhadap segala keputusan PBNU.

 

Kedua, PBNU menginginkan agar organisasi JATMAN ini dikelola dengan baik dan professional. Sebab menurut PBNU, JATMAN selama ini tata kelola keorganisasiannya belum professional. Salah satu indikatornya adalah  masa jabatan ketua JATMAN yang tidak dibatasi hanya dua periode saja dan tidak ada jadwal regular dari jajaran kepengurusan JATMAN pusat untuk sowan ke PBNU. Dengan penertiban tata kelola organisasi ini, insyaallah tidak ada lagi ketua JATMAN yang menjabat lebih dari dua periode dan derap langkah organisasi akan termonitor oleh PBNU demi singkronisasi program antar keduanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X