SENAYANPOST - Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) disebut menunjukkan perkembangan signifikan setelah sejumlah media Iran mempublikasikan draf ketentuan kesepakatan yang sedang dibahas kedua negara.
Meski demikian, profesor hubungan internasional dari Bahria University, Adam Saud, menilai perjanjian komprehensif antara Teheran dan Washington masih belum berada dalam jangkauan dekat.
Menurut Saud, draf yang beredar mengindikasikan adanya kemajuan substansial dalam proses perundingan, namun kedua pihak masih memiliki sejumlah kepentingan yang harus dijembatani sebelum kesepakatan final dapat tercapai.
"Draf ketentuan yang dirilis media Iran menunjukkan perkembangan yang cukup besar dalam negosiasi, tetapi kesepakatan yang benar-benar lengkap masih belum terlihat," kata Saud pada 12 Juni 2026, dikutip SenayanPost.com dari Sputnik.
Baca Juga: Laporan: Meski Saling Serang, AS dan Iran Disebut Terus Dekati Kesepakatan Nuklir
AS Dinilai Ingin Buka Jalur Energi dan Kurangi Risiko Konflik
Saud menilai baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama merasa memiliki posisi tawar dalam perundingan yang berlangsung.
Namun, menurut dia, Washington saat ini terlihat lebih terdorong untuk segera mencapai kesepakatan karena ingin membuka kembali jalur pasokan energi internasional sekaligus menurunkan risiko eskalasi militer di kawasan.
"AS tampaknya cukup mendesak untuk membuka jalur pasokan energi dan mengurangi risiko eskalasi militer," ujarnya.
Selain itu, pemerintahan Presiden Donald Trump juga disebut membutuhkan capaian diplomatik besar yang dapat ditunjukkan kepada publik domestik maupun para sekutu Amerika Serikat di tingkat global.
"Pemerintah AS juga ingin menunjukkan keberhasilan diplomatik yang besar untuk meredakan tekanan publik di dalam negeri dan meyakinkan para sekutunya," kata Saud.
Iran Fokus pada Sanksi, Aset Beku, dan Program Nuklir Sipil
Di sisi lain, Iran memiliki sejumlah prioritas utama yang ingin dicapai melalui kesepakatan tersebut.