SENAYANPOST - Salah seorang mantan pejabat senior Mossad mengungkapkan bahwa cepat atau lambat rezim Iran akan runtuh.
Sebagaimana diketahui, Israel penjajah sudah merencanakan keruntuhan pemerintah Iran sejak lama.
Pejabat senior Mossad tersebut mengatakan bahwa Amerika Serikat saat ini terlalu cepat menghentikan perang, dalam sebuah wawancara eksklusif di salah satu stasiun televisi Israel, Channel 12.
"Kami tidak berusaha sampai akhir, kami dihentikan di tengah jalan," kata mantan pejabat Mossad tersebut, yang hanya diidentifikasi sebagai 'Aleph' pada 7 Juni 2026, dikutip SenayanPost.com dari Times of Israel.
Diketahui, Aleph pensiun pada tahun lalu.
Baca Juga: Menlu Iran Abbas Araghchi Ungkap Alasan Ayatollah Mojtaba Khamenei Belum Bisa Tampil di Publik
"Ini adalah rencana multi-tahap yang telah disiapkan dari waktu ke waktu dan telah dihentikan untuk sementara waktu. Dalam perang ini, kami berperang dengan mitra, kekuatan strategis yang pada suatu titik menghentikan pertempuran, tetapi tahapan-tahapan ini dimulai dan berkembang, termasuk penggunaan mitra Kurdi, dengan tujuan untuk mengganti rezim," terangnya.
Menurut Channel 12, Aleph bertugas di Mossad selama hampir 30 tahun, naik ke posisi kepemimpinan senior, hingga ia pensiun tahun lalu setelah menyadari bahwa ia tidak akan dipertimbangkan untuk posisi puncak di lembaga tersebut.
Pada bulan Desember, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menunjuk sekretaris militernya, Roman Gofman, sebagai direktur Mossad baru untuk menggantikan David Barnea.
Gofman mulai menjabat pada hari Selasa, setelah berbulan-bulan menghadapi tantangan hukum dan kontroversi.
Ketika ditanya tentang laporan New York Times yang menyatakan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menggambarkan rencana Israel untuk menggulingkan rezim Iran sebagai 'konyol' dan 'omong kosong' setelah Netanyahu dan Barnea mempresentasikannya kepada Presiden AS Donald Trump, Aleph menunjukkan bahwa para pejabat AS tersebut tidak memiliki pengalaman 28 tahunnya bekerja di Mossad.
"Sayang sekali mereka tidak memiliki pengalaman itu, tetapi (rencana itu) tentu saja bukan omong kosong dan bukan lelucon," tegasnya.
"Di Mossad, imajinasi menjadi kenyataan," lanjutnya.