Israel Dinilai sebagai Faktor Pengganggu
Selain perbedaan antara Washington dan Teheran, Kamrava menilai Israel tetap menjadi faktor yang dapat mempersulit proses perdamaian.
Selama ini, pemerintah Israel secara terbuka menyampaikan keberatan terhadap pendekatan diplomatik yang ditempuh Amerika Serikat dengan Iran.
"Israel tetap menjadi 'kartu liar' yang sewaktu-waktu dapat menggagalkan proses kesepakatan damai," kata Kamrava.
Ia menilai posisi Tel Aviv yang konsisten menentang kompromi dengan Teheran berpotensi menciptakan dinamika baru yang mengganggu jalannya negosiasi.
Baca Juga: Laporan: Iran Hentikan Pembicaraan dengan AS, Ancam Bakal Tutup Selat Bab Al Mandab
Beda Pandangan soal Format Kesepakatan
Kamrava juga menyoroti masih adanya perbedaan pandangan mendasar mengenai format penyelesaian konflik.
Menurutnya, Iran lebih memilih pendekatan bertahap melalui kesepakatan sementara sebelum menuju perjanjian komprehensif.
Sebaliknya, Amerika Serikat menginginkan penyelesaian yang lebih cepat dan menyeluruh.
"Iran menginginkan kesepakatan sementara terlebih dahulu sebelum menuju perjanjian penuh, sementara Amerika Serikat menginginkan penyelesaian yang cepat dan tuntas," ujarnya.
Perbedaan pendekatan tersebut dinilai menjadi tantangan tambahan bagi kedua negara dalam mencapai kesepakatan yang dapat diterima semua pihak.
Meski peluang diplomasi masih terbuka, Kamrava memperingatkan bahwa tanpa penyelesaian terhadap isu sanksi, aset Iran yang dibekukan, serta keberatan dari pihak-pihak regional, stabilitas di Teluk Persia tetap berada dalam posisi yang rentan.