SENAYANPOST - Setidaknya lebih dari 3.400 warga sipil tewas akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel selama perang di Iran, demikian pernyataan Yayasan Martir dan Urusan Veteran pada hari Sabtu.
Kepala Yayasan, Ahmad Mousavi, dikutip oleh kantor berita ISNA mengatakan bahwa 3.468 dinyatakan gugur selama perang yang berlangsung dua bulan terakhir.
Angka ini merupakan revisi dari jumlah korban sebelumnya yang diumumkan pada 12 April oleh kepala Organisasi Kedokteran Forensik Iran, yang mengumumkan kematian 3.375 orang.
Saat ini, gencatan senjata sementara berlaku antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Laporan: Iran Ungkap Pembicaraan Nuklir dengan AS, Masih Ada Kesenjangan
Namun, putaran pembicaraan awal belum menghasilkan kesimpulan karena masih ada masalah yang belum terselesaikan, khususnya masalah gencatan senjata di Lebanon dan program nuklir Iran.
Amerika Serikat juga melanggar gencatan senjata yang berlaku dengan memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz, serta agresi pendudukan Israel yang berkelanjutan terhadap Lebanon.
Iran mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran pembicaraan selanjutnya dengan AS.
Pada hari Sabtu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan bahwa belum ada tanggal yang dijadwalkan untuk putaran pembicaraan selanjutnya dengan Amerika Serikat, menekankan bahwa kedua belah pihak harus terlebih dahulu menyepakati kerangka dasar untuk saling pengertian.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan langsung lebih lanjut kemungkinan akan berlangsung akhir pekan ini.
Baca Juga: Di Tengah Ketegangan AS dan Iran, 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz
Namun, beberapa diplomat mempertanyakan jadwal tersebut, menunjuk pada tantangan logistik dalam menyelenggarakan diskusi di Islamabad, tempat negosiasi diharapkan akan diadakan.
"Kami sekarang fokus pada penyelesaian kerangka pemahaman antara kedua belah pihak. Kami tidak ingin memasuki negosiasi atau pertemuan apa pun yang ditakdirkan untuk gagal dan yang dapat menjadi dalih untuk putaran eskalasi lainnya," kata Saeed Khatibzadeh kepada wartawan di sela-sela forum diplomasi di provinsi Antalya, Turki selatan, sebagaimana dikutip SenayanPost.com pada 18 April 2026 dari Al Mayadeen English.
"Sampai kita menyepakati kerangka kerjanya, kita tidak bisa menetapkan tanggalnya... Sebenarnya ada kemajuan signifikan yang telah dicapai. Tetapi kemudian pendekatan maksimalis dari pihak lain, yang mencoba menjadikan Iran sebagai pengecualian dari hukum internasional, mencegah kita mencapai kesepakatan," merujuk pada tuntutan AS atas program nuklir Iran.***